NARASITODAY.COM, JOHANNESBURG – Ruang-ruang diplomatik antara Afrika Selatan dan Israel kini tak ubahnya medan laga tanpa peluru. Ketegangan yang telah lama mendidih akhirnya meluap setelah kedua negara secara resmi saling mengusir pejabat senior masing-masing, memperlebar jurang permusuhan yang dipicu oleh konflik di Gaza.
Pemicu: Unggahan Media Sosial dan Protokol yang Dilanggar
Pemerintah Afrika Selatan memulai langkah drastis ini pada Jumat (30/1/2026) dengan menetapkan Kuasa Usaha Israel, Ariel Seidman, sebagai persona non grata. Seidman hanya diberi waktu 72 jam untuk mengemas barang-barangnya dan meninggalkan Pretoria.
Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan menuding Seidman telah melanggar norma diplomasi yang “tidak dapat diterima,” termasuk dugaan penghinaan terhadap Presiden Cyril Ramaphosa di media sosial. Meski tidak merinci unggahan yang dimaksud, kecurigaan mengarah pada postingan di platform X pada November lalu yang bernada satir: “Momen langka kebijaksanaan dan kejelasan diplomatik dari Presiden Ramaphosa.”
Tak hanya soal media sosial, Pretoria juga menuduh Seidman sengaja menyembunyikan informasi mengenai kunjungan pejabat senior Israel ke Afrika Selatan dari otoritas setempat.
“Kami berharap kedutaan Israel akan berinteraksi dengan kami secara hormat, dan mereka akan mengirim seseorang yang akan berinteraksi secara hormat dan yang akan menjunjung tinggi serta mengejar diplomasi,” tegas Chrispin Phiri, juru bicara Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan, melalui saluran televisi Newzroom Afrika.
Aksi Balasan Kilat dari Tel Aviv
Israel tidak tinggal diam. Hanya dalam hitungan jam, Tel Aviv melancarkan aksi balasan serupa. Menteri Shaun Edward Byneveldt, perwakilan diplomatik senior Afrika Selatan di Israel, turut dinyatakan sebagai persona non grata dengan tenggat waktu kepulangan yang sama.
Melalui pernyataan di platform X, Kementerian Luar Negeri Israel menegaskan bahwa pengusiran ini adalah respons atas apa yang mereka sebut sebagai “serangan palsu” Afrika Selatan di panggung internasional. Israel menilai langkah Pretoria terhadap Seidman adalah tindakan sepihak yang sama sekali tidak berdasar.
Akar Konflik: Bayang-bayang Gaza dan Tekanan Global
Keretakan ini bukanlah hal baru, melainkan puncak dari gunung es yang membeku sejak Afrika Selatan menyeret Israel ke Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan genosida di Gaza. Langkah berani Pretoria ini pun harus dibayar mahal:
- Kritik Keras AS: Presiden Donald Trump secara terbuka memberikan teguran verbal kepada Afrika Selatan.
- Sanksi Ekonomi: Washington telah memangkas bantuan bagi Afrika Selatan pada tahun lalu sebagai bentuk ketidaksenangan.
Meskipun pada tahun 2023 parlemen Afrika Selatan telah menyuarakan penutupan kedutaan Israel, keputusan tersebut sempat tertahan di ranah wacana. Namun, dengan pengusiran timbal balik ini, hubungan kedua negara kini berada di titik nadir, menyisakan kursi-kursi kosong di kedutaan dan komunikasi yang sepenuhnya buntu.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













