
NARASITODAY.COM, TEPI BARAT – Selama 25 tahun terakhir, pemandangan di sekitar Makam Yusuf di wilayah Nablus selalu identik dengan kegelapan malam dan deru kendaraan militer yang terburu-buru. Namun, pada Kamis (29/1/2026), tradisi itu pecah. Di bawah sinar matahari pagi, sekitar 1.500 warga Yahudi melaksanakan ritual doa dalam sebuah langkah yang dipandang sebagai tantangan terbuka terhadap status quo di wilayah konflik tersebut.
Ritual Shacharit di Balik Kawalan Ketat
Rombongan besar yang terdiri dari umat Yahudi Ultra-nasionalis dan Ultra-ortodoks tiba menggunakan sekitar 25 bus sejak malam hari. Namun, alih-alih bergegas pergi sebelum fajar menyingsing seperti prosedur biasanya, mereka menetap untuk melaksanakan ritual Shacharit doa pagi yang digelar tepat setelah matahari terbit.
Langkah ini menyusul kebijakan baru Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang sejak Desember lalu menginstruksikan militer untuk memperlonggar kunjungan dan tidak lagi membatasinya hanya pada jam-jam gelap.
Kepala dewan regional Shomron, Yossi Degan, yang turut hadir dalam rombongan, menyambut momen ini sebagai sebuah pencapaian bersejarah bagi kaumnya.
“Ini adalah langkah penting dan signifikan untuk memastikan kembalinya sepenuhnya rakyat Israel dan Negara Israel ke tempat suci itu,” tegas Yossi Degan.
Ia juga menambahkan rasa bangganya atas perubahan waktu ibadah tersebut.
“Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, umat Yahudi berdoa di siang bolong di Makam Yusuf,” ujarnya.
Titik Temu Keyakinan dan Konflik
Makam kuno yang terletak di Area A Tepi Barat ini merupakan salah satu titik paling sensitif dalam sengketa tanah dan keyakinan.
- Umat Yahudi: Meyakini situs ini sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh Alkitab, Yusuf.
- Umat Islam: Mengimani makam tersebut sebagai makam Nabi Yusuf, sebuah warisan Islam yang tak terpisahkan.
Berdasarkan Kesepakatan Oslo 1990-an, wilayah ini berada di bawah administrasi penuh Otoritas Palestina. Namun, kehadiran ribuan peziarah yang dikawal ketat oleh pasukan keamanan Israel di tengah pemukiman padat penduduk Palestina di Nablus sering kali menjadi sumbu ledak bentrokan.
Normalitas yang Mengundang Risiko
Hingga pukul 07.00 pagi waktu setempat, saksi mata melaporkan bus-bus rombongan baru mulai meninggalkan lokasi. Bagi warga Palestina, kunjungan “siang bolong” ini dianggap sebagai bentuk provokasi dan upaya aneksasi simbolis terhadap situs suci mereka.
Kunjungan yang biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan harus berakhir sebelum pukul 04.00 kini telah berubah wajah. Dengan dukungan kebijakan baru dari Tel Aviv, Makam Yusuf diprediksi akan terus menjadi pusat perhatian dunia, di mana batas antara ziarah keagamaan dan klaim teritorial menjadi kian kabur di bawah terik matahari Tepi Barat.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













