Child Grooming dan Mengapa Ia Sering Tak Terlihat: Catatan Sosiolog dan Psikolog UB

0
Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: iStock

NARASITODAY.COM , JAKARTA – Kesadaran masyarakat terhadap isu perlindungan anak terus meningkat. Salah satu persoalan yang belakangan kembali ramai dibicarakan adalah child grooming, sebuah bentuk manipulasi terhadap anak yang kerap terjadi secara perlahan dan sulit disadari.

Fenomena ini menjadi perhatian kalangan akademisi, termasuk sosiolog dan psikolog dari Universitas Brawijaya (UB). Mereka menilai bahwa child grooming bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur sosial, relasi kuasa, dan lingkungan sekitar anak.

Dosen Sosiologi UB, Astrida Fitri Nuryani, menjelaskan bahwa dalam kacamata sosiologi, anak berada pada posisi yang rentan karena belum memiliki kapasitas penuh untuk mengambil keputusan secara sosial maupun psikologis. Kondisi ini membuat anak mudah mengalami tekanan, manipulasi, hingga dorongan untuk memasuki peran orang dewasa sebelum waktunya.

Baca Juga :  Nikmati Kelezatan Lemon Oatmeal dengan Resep Sederhana Ini

Menurut Astrida, praktik child grooming tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan seksual yang kasat mata. Dalam banyak kasus, tekanan justru datang secara halus dari orang-orang terdekat, bahkan kerap dinormalisasi melalui alasan budaya, tradisi, atau tafsir tertentu.

“Relasi yang eksploitatif terhadap anak sering kali tidak dianggap sebagai kekerasan, karena dibungkus dengan alasan yang dianggap wajar oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa praktik ini tidak mengenal batas wilayah maupun kelas sosial. Dampaknya, anak dapat kehilangan fase penting dalam tumbuh kembangnya dan dipaksa menjalani peran yang belum siap ia emban, baik secara emosional, sosial, maupun ekonomi.

Baca Juga :  5 Karakter Unik Orang yang Lebih Memilih Bertahan dalam Hubungan yang Tidak Bahagia

Dari sisi psikologis, Dosen Psikologi UB Luh Ayu Tirtayani menjelaskan bahwa child grooming merupakan proses manipulatif yang berlangsung dalam waktu panjang. Pelaku biasanya membangun kepercayaan secara perlahan dengan memenuhi kebutuhan emosional anak, hingga menciptakan ketergantungan.

“Pelaku sering memosisikan dirinya sebagai figur yang paling memahami dan melindungi anak,” jelas Luh Ayu.

Dalam situasi tersebut, batas antara hubungan aman dan berbahaya menjadi kabur. Anak sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan, sementara pelaku tetap terlihat baik di mata lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Psikolog Ingatkan, Keputusan Bunuh Diri Anak Tak Pernah Datang dari Satu Masalah

Akibatnya, banyak korban mengalami tekanan psikologis berkepanjangan seperti rasa takut, malu, dan menyalahkan diri sendiri. Kondisi ini membuat kasus child grooming kerap baru terungkap setelah trauma mendalam dialami korban.

Kedua akademisi UB sepakat bahwa pencegahan child grooming merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, media, tokoh agama, hingga pemerintah memiliki peran penting dalam memberikan edukasi dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

Mereka juga menekankan pentingnya penyajian informasi yang berpihak pada korban, tanpa menyudutkan atau menyalahkan anak. Child grooming, menurut mereka, adalah persoalan sosial yang perlu ditangani secara kolektif dan berkelanjutan. (MG3)

Editor : Mutiara