Militer AS Luncurkan Serangan Terbaru di Pasifik, Tewaskan Dua Orang dan Kontroversi Meningkat

0
militer
Ilustrasi Kapal tanker. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SAMUDRA PASIFIK – Keheningan di perairan Pasifik bagian timur kembali pecah oleh dentuman senjata militer Amerika Serikat pada Kamis (5/2/2026). Dalam operasi terbaru yang dilancarkan di bawah komando pemerintahan Trump, sebuah kapal menjadi sasaran serangan yang menewaskan dua orang di atasnya.

Komando Selatan AS (SOUTHCOM), yang membawahi operasi militer di wilayah Amerika Latin, langsung melabeli para korban sebagai ancaman keamanan nasional.

“Dua terduga narco-teroris tewas dalam operasi tersebut,” demikian pernyataan resmi SOUTHCOM sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Meski label “narco-teroris” disematkan, SOUTHCOM hingga kini belum merilis bukti konkret yang mendukung tuduhan bahwa kapal maupun kedua korban tersebut terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba global. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, AS secara sepihak menetapkan kartel narkotika sebagai organisasi teroris, sebuah kebijakan yang memberi lampu hijau bagi militer untuk memperlakukan pengedar layaknya kombatan perang.

Baca Juga :  Teknologi Wearable, 5 Smart Ring Terbaik untuk Kesehatan dan Kebugaran di 2025!

Namun, strategi ini mendapat tantangan keras dari dunia internasional. Ben Saul, Pelapor Khusus PBB untuk perlindungan HAM dalam upaya kontra-terorisme, menegaskan bahwa tindakan ini tidak memiliki sandaran hukum yang sah.

“Tidak ada dasar hukum dalam hukum internasional yang membenarkan penggunaan kekuatan militer di laut lepas untuk membunuh terduga pengedar narkoba atau geng narkotika,” tegas Saul.

Di balik angka-angka statistik kematian, terdapat wajah-wajah manusia yang kini menjadi yatim atau janda. Salah satunya adalah keluarga Alejandro Carranza, pria Kolombia yang tewas dalam salah satu operasi militer tersebut. Mereka bersikeras bahwa Alejandro hanyalah seorang nelayan biasa yang mencari nafkah di laut, bukan penyelundup kelas kakap.

Baca Juga :  Bogor Koi Show 2026 Berhasil Sambut Ratusan Peserta dan Tingkatkan Industri Ikan Hias Nasional

Keluarga Carranza kini tengah berjuang melalui Komisi Antarpemerintah Hak Asasi Manusia (IACHR), meski para aktivis memperingatkan bahwa menuntut pertanggungjawaban pejabat tinggi AS adalah jalan panjang yang terjal.

Ironi kian tajam setelah laporan dari CNN mengungkapkan bahwa salah satu serangan pada September lalu ternyata menyasar kapal yang menuju Suriname, bukan daratan Amerika Serikat. Bahkan, ada laporan memilukan tentang penembakan terhadap penyintas yang tengah berpegangan pada puing-puing kapal yang hancur.

Menurut catatan kelompok pemantau Airwars, sejak kebijakan agresif ini dimulai pada September 2025, sedikitnya 128 orang telah tewas di tangan militer AS di perairan Pasifik dan Karibia.

Baca Juga :  Ledakan Mengerikan Hancurkan Mobil Petinggi Militer Rusia di Moskow, Dugaan Keterlibatan Intelijen Asing Muncul

Berikut adalah catatan kelam operasi tersebut:

  • Total Korban Tewas: 128 orang (116 tewas di tempat, 10 hilang/diduga meninggal).
  • Intensitas Serangan: 38 kapal hancur dalam 36 operasi militer.
  • Insiden Terakhir: Serangan pada 23 Januari yang menewaskan dua orang.

Langkah militer AS ini kini menempatkan kawasan Pasifik dan Karibia dalam situasi yang mencekam. Bagi Washington, ini adalah perang melawan narkoba. namun bagi komunitas internasional dan keluarga korban, ini adalah rangkaian pembunuhan di luar proses hukum (extrajudicial killing) yang meninggalkan noda dalam hukum laut internasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com