NARASITODAY.COM, BUENOS AIRES – Suasana di depan gedung parlemen Argentina berubah menjadi medan tempur pada Rabu (11/2/2026). Asap gas air mata membubung tinggi, bersaing dengan kepulan hitam dari bom molotov yang dilemparkan para pekerja yang mengamuk. Demonstrasi besar-besaran ini pecah sebagai respons atas usulan reformasi perburuhan radikal yang diinisiasi oleh Presiden Javier Milei.
Kericuhan memuncak saat massa yang mengenakan tudung dan masker mencoba menembus barikade polisi yang memblokir akses ke jantung legislatif. Polisi membalas hujan batu dengan tembakan peluru karet. Akibatnya, puluhan orang dari kedua belah pihak dilaporkan luka-luka, dan sedikitnya 20 demonstran diringkus aparat keamanan.
Inti dari kemarahan warga adalah paket kebijakan ekonomi Milei yang bertujuan merombak total pasar tenaga kerja Argentina. Pemerintah berdalih bahwa aturan baru ini akan mempermudah perusahaan merekrut pegawai baru guna menghidupkan kembali ekonomi yang lesu.
Namun, bagi serikat pekerja, aturan ini adalah “surat kematian” bagi kesejahteraan mereka. Dalam usulan tersebut, prosedur pemecatan akan dipermudah, nilai pesangon dipangkas, serta hak untuk mogok kerja dan cuti akan dibatasi secara ketat.
“Dengan reformasi perburuhan yang eksploitatif ini, mereka hanya memikirkan orang kaya. Yang diuntungkan adalah para bos,” ujar Federico Pereira, seorang sosiolog berusia 35 tahun yang ikut memantau situasi di lapangan.
Sejak dilantik pada Desember 2023, Milei memang dikenal dengan kebijakan “gergaji mesin”-nya untuk memotong pengeluaran pemerintah dan mendorong deregulasi besar-besaran. Ia bersikeras bahwa undang-undang ketenagakerjaan yang ada saat ini terlalu kaku dan justru menghambat pertumbuhan sektor formal.
Targetnya ambisius yaitu reformasi ini harus sudah diadopsi sepenuhnya pada Maret mendatang. Saat ini, nasib jutaan pekerja Argentina berada di tangan Senat sebelum nantinya dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat.
Ketegangan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang sangat kontras. Berdasarkan data terbaru, Upah Minimum di Argentina memang naik tipis menjadi 346.800 ARS (sekitar Rp4,14 juta) pada Februari 2026. Namun, kenyataan pahit menunjukkan bahwa hampir 40% pekerja Argentina masih terjebak dalam sektor informal tanpa kontrak kerja yang sah.
Kini, Buenos Aires berada dalam masa penantian yang mencekam. Jika parlemen mengetuk palu persetujuan, Argentina akan memasuki babak baru ekonomi yang dijanjikan Milei sebagai kemajuan, namun ditakuti para buruh sebagai era eksploitasi.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













