NARASITODAY.COM, BOGOTA – Wilayah Cauca yang bergolak kembali menjadi saksi bisu kekerasan terhadap tokoh publik Kolombia. Senator Aida Quilcue (53), seorang aktivis adat terkemuka dan peraih penghargaan, berhasil lolos dari upaya penculikan oleh kelompok bersenjata pada Selasa (10/2/2026). Insiden ini menambah daftar panjang horor di wilayah yang kini menjadi medan tempur perebutan bisnis kokain oleh sisa-sisa disiden FARC.
Ketegangan bermula ketika mobil yang ditumpangi Quilcue dicegat di tengah jalan. Dalam hitungan jam, kendaraan tersebut ditemukan telantar dalam kondisi kosong, memicu kekhawatiran nasional akan keselamatan sang senator.
Beruntung, kekuatan komunitas adat yang solid menjadi kunci keselamatan Quilcue. Para pelacak adat segera bergerak menyisir hutan tak lama setelah kabar hilangnya sang senator tersiar. Gerakan cepat warga adat ini tampaknya menggetarkan nyali para penculik.
Dalam sebuah video emosional yang diunggah Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez, terlihat Quilcue yang terguncang dievakuasi ke dalam kendaraan lapis baja oleh unit antikidna militer.
“Saya sekarang baik-baik saja,” kata Quilcue sambil menangis dalam video tersebut, seperti dikutip AFP.
Quilcue menceritakan detik-detik mencekam saat dirinya dipaksa meninggalkan kenyamanan kendaraannya menuju ketidakpastian di dalam hutan.
“Sejumlah pria bersenjata mengeluarkan kami dari kendaraan dan memaksa kami berjalan menuju lokasi yang tidak diketahui,” ujarnya.
Namun, pelariannya terjadi begitu cepat saat para penculik menyadari posisi mereka mulai terdesak oleh kedatangan warga adat. “Mereka melarikan diri dan kami bisa menyelamatkan diri,” tambah Quilcue.
Tragedi yang menimpa Quilcue terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Gustavo Petro mengumumkan bahwa dirinya juga baru saja menghindari percobaan pembunuhan. Petro mengungkapkan helikopter yang ditumpanginya terpaksa terbang di atas laut lepas selama empat jam demi menghindari tembakan kelompok tak dikenal di pesisir Karibia.
“Kami terbang ke laut selama empat jam dan mendarat di lokasi lain untuk menghindari pembunuhan,” ujar Petro, yang sebelumnya telah memperingatkan para penculik Quilcue agar “tidak melampaui batas.”
Insiden yang menimpa kedua tokoh ini menjadi pengingat pahit bahwa perdamaian di Kolombia masih sangat rapuh. Meskipun perjanjian damai 2016 telah melucuti senjata sebagian besar gerilyawan FARC, faksi-faksi pembangkang yang menolak kesepakatan tersebut justru kian agresif menguasai jalur perdagangan kokain.
Sejarah mencatat lebih dari 250.000 nyawa telah melayang selama enam dekade konflik bersenjata antara gerilyawan kiri, paramiliter kanan, dan kartel narkoba. Di Cauca, tempat Quilcue diculik, senjata masih berbicara lebih keras daripada undang-undang, meninggalkan rakyat dan para pemimpinnya dalam ancaman yang tak pernah benar-benar usai.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














