Kekerasan Berulang di Nigeria, Warga Desak Aksi Nyata dari Pemerintah untuk Hentikan Derita!

0
Nigeria
Ilustrasi bendera Nigeria. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NIGERIA – Suasana tenang di lokasi penambangan Desa Atoso, Negara Bagian Plateau, mendadak berubah menjadi mimpi buruk pada Selasa malam (16/12/2025). Di bawah kegelapan, sekelompok pria bersenjata merangsek masuk, melepaskan tembakan membabi buta yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyeret tiga warga lainnya ke dalam penculikan yang mencekam.

Insiden ini menambah daftar panjang noktah merah di wilayah Middle Belt Nigeria, sebuah kawasan yang keindahannya kerap kali tertutup oleh bayang-bayang konflik komunal yang tak kunjung usai.

Dalyop Solomon Mwantiri, Ketua Berom Youth Moulders-Association (BYM), melaporkan bahwa para penyerang yang diidentifikasi warga sebagai milisi bersenjata Fulani datang saat para penambang mungkin sedang melepas lelah.

Baca Juga :  Stop Kekerasan Verbal! Kenali 5 Tanda Awal Sebelum Terlambat

“Para penyerang menyerang larut malam pada Selasa (16/12/2025),” kata Mwantiri. Selain korban jiwa, ia menambahkan bahwa lima orang lainnya kini tengah berjuang bertahan hidup di rumah sakit akibat luka tembak serius.

Hingga saat ini, nasib tiga warga yang diculik masih menjadi teka-teki. “Tiga orang dalam insiden tersebut juga diculik oleh kelompok bersenjata,” lapor Mwantiri sebagaimana dilansir dari Reuters. Belum ada tuntutan tebusan maupun informasi mengenai kondisi para korban tersebut.

Tragedi di Atoso bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Mwantiri mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap otoritas keamanan yang dianggapnya lamban merespons tanda-tanda bahaya yang sudah muncul sebelumnya.

Baca Juga :  Hari Pers Nasional 2025, DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Harap Pers Bersinergi dalam Menyampaikan Informasi Berkualitas

“Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah empat anak dibunuh di desa terdekat,” kata Mwantiri dengan nada getir. Ia menuduh pihak berwenang gagal bertindak meskipun indikasi ancaman keamanan sudah terpampang nyata di depan mata.

Pihak Kepolisian Nigeria melalui juru bicaranya, Alfred Alabo, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan bahwa penyelidikan tengah berjalan. “Pihak berwenang telah memulai investigasi untuk mengungkap pelaku dan kronologi lengkap serangan tersebut,” ujar Alabo.

Negara Bagian Plateau telah lama menjadi titik didih perselisihan antara kelompok petani dan penggembala. Ketegangan etnis dan agama, ditambah perebutan sumber daya lahan, menciptakan lingkaran kekerasan yang terus berulang meski pemerintah pusat berkali-kali menjanjikan kedamaian.

Baca Juga :  Komnas Perempuan Dorong Kampus Berani Cegah Kekerasan Seksual, Bukan Malu di Hadapan Publik

Sebagai respons atas pertumpahan darah ini, komunitas lokal mendesak langkah konkret dari pemerintah, termasuk:

  • Peningkatan kehadiran aparat keamanan secara permanen di titik rawan.
  • Penegakan larangan penggembalaan terbuka yang selama ini sering dilanggar.
  • Operasi penyelamatan segera untuk membebaskan korban penculikan.

Bagi warga Plateau, janji keamanan dari pemerintah kini terdengar seperti gema kosong di tengah isak tangis keluarga korban. Di Desa Atoso, tanah tambang yang biasanya menjanjikan harapan ekonomi, kini justru memerah oleh darah.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber