Kuba Terpuruk Krisis Makanan-Listrik akibat Blokade Minyak AS

0
Kuba
Ilustrasi Sebuah bendera Kuba yang berlubang berkibar di atas jalan di pusat kota Havana.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HAVANA – Di sebuah sudut kota Ciego De Avila, Kuba Tengah, Isben Peralta menatap oven pizzeria kecil di rumahnya dengan perasaan was-was. Bagi Isben dan jutaan warga Kuba lainnya, setiap menit aliran listrik yang mengalir adalah kemewahan yang sulit diprediksi. Kuba kini tengah terperosok dalam krisis pangan dan energi paling parah dalam sejarahnya, menyusul blokade bahan bakar yang kian mencekik oleh Amerika Serikat.

“Bagi saya, setiap perubahan akan lebih baik dibandingkan apa yang kami alami sekarang, karena kondisi yang kami jalani tidak manusiawi,” kata Peralta kepada CBC News.

Sebagai pemilik usaha kecil, Isben mengaku masih bisa bertahan untuk makan, namun ia menyadari nasib tetangganya jauh lebih pilu. “Banyak, sangat banyak orang yang tidak mampu. Kondisinya sangat buruk,” tambahnya.

Baca Juga :  Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto Resmi Tidak Naikkan Harga BBM per 1 April 2026

Hidup dalam Hitungan Jam

Di tengah krisis ini, waktu seolah berhenti. Wilayah tempat tinggal Isben tergolong “beruntung” karena dekat dengan lokasi pengiriman bahan bakar, sehingga ia masih bisa menikmati listrik selama tiga jam penuh dalam sehari. Namun, di distrik lain dalam provinsi yang sama, warga harus bergelut dengan kegelapan selama 10 hingga 11 jam, dengan aliran listrik yang hanya muncul sekitar 30 menit.

“Kami punya sedikit listrik… lalu diputus selama lima jam berturut-turut sebelum dinyalakan sebentar lagi,” keluh Peralta.

Krisis ini melumpuhkan sektor transportasi secara total. Pada Minggu (8/2/2026), Bandara Internasional Jose Marti di Havana mengeluarkan peringatan bahwa persediaan bahan bakar jet hampir habis. Hal ini memicu maskapai Kanada untuk menghentikan layanan dan memulangkan wisatawan secara massal.

Baca Juga :  China Rilis Buku Putih tentang Reformasi Tata Kelola Global dan Peran Negara Berkembang

Duka dari Winnipeg ke Holguin

Dampak krisis ini melintasi samudera hingga ke Winnipeg, Kanada. Luis Escalona, seorang warga keturunan Kuba, terpaksa membatalkan rencana kepulangannya ke Holguin untuk membantu ibunya yang sakit.

“Saya sudah merencanakan menyewa mobil dan pergi bersamanya (ibunya) pada Maret nanti. Sekarang, ia harus menunggu karena listrik, pasokan, dan bensin tidak ada, dan penerbangan kami dibatalkan,” ujar Escalona dengan nada kecewa. Ia telah menyiapkan banyak barang kebutuhan pokok yang kini mustahil didapatkan di kampung halamannya.

Blokade dan Tekanan Politik

Keterpurukan Kuba berakar pada keruntuhan pasokan minyak dari sekutu utamanya, Venezuela. Sejak pertengahan Desember, kiriman minyak mentah terhenti total setelah AS melakukan tindakan agresif terhadap pemerintahan Nicolas Maduro dan berupaya memblokir ekspor negara tersebut.

Baca Juga :  Viral di Media Sosial, KGPAA Hamangkunegoro Unggah Penyesalan Bergabung dengan Republik Indonesia

Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang menjatuhkan sanksi bagi negara mana pun yang berani menjual bahan bakar ke Kuba. Mantan duta besar Kanada untuk Kuba, Mark Entwistle, menilai ini adalah strategi untuk “mencekik” ekonomi Kuba hingga runtuh.

Entwistle mendesak adanya intervensi kemanusiaan dari Kanada untuk membantu mengatasi kekurangan obat-obatan dan pangan yang semakin akut. “Isu ini melampaui politik. Saya tidak percaya pemerintahan Trump pun akan mencoba memblokir bantuan kemanusiaan untuk anak-anak yang kelaparan,” tutup Entwistle.

Kuba kini hanya bisa menunggu dalam gelap, berharap tekanan internasional mampu melunakkan kebijakan yang sedang menghimpit perut rakyatnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com