NARASITODAY.COM, DHAKA – Di sebuah kantor yang dindingnya dipenuhi potret kenangan mendiang orang tuanya, Tarique Rahman (60) kini menatap masa depan baru bagi Bangladesh. Pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) ini bersiap mengambil alih kemudi negara berpenduduk 170 juta jiwa tersebut, setelah partainya mengklaim kemenangan telak dalam pemilihan parlemen yang digelar Kamis waktu setempat.
Kemenangan ini menjadi babak baru yang dramatis bagi Bangladesh, hanya berselang satu setengah tahun sejak pemberontakan mematikan menggulingkan rezim Sheikh Hasina. Meski hasil resmi masih dalam tahap finalisasi, dukungan internasional mulai mengalir, termasuk ucapan selamat dari Amerika Serikat atas pencapaian yang disebut sebagai momen bersejarah tersebut.
Lahir sebagai putra dari mantan Presiden Ziaur Rahman dan mantan Perdana Menteri Khaleda Zia, Rahman menyadari beban besar di pundaknya. Namun, ia menegaskan bahwa kepemimpinannya tidak akan sekadar menjadi replika masa lalu.
“Mereka adalah mereka, saya adalah saya. Saya akan mencoba melakukan yang lebih baik daripada mereka,” ujar Rahman dengan tegas saat berbicara kepada AFP, dikutip Jumat (13/2/2026).
Langkah politiknya dimulai sejak ia masih kecil, saat sempat ditahan dalam perang kemerdekaan 1971. Ia kemudian perlahan membangun karier dengan setia mendampingi sang ibu berkampanye di berbagai pelosok negeri.
“Di kursi-kursinya (wilayah pemilihan), saya biasa pergi dan berkampanye. Jadi, begitulah perlahan dan bertahap saya mulai terlibat dalam politik,” jelasnya.
Di balik euforia politik, terselip duka mendalam bagi pria yang menghabiskan 17 tahun dalam pengasingan di Inggris ini. Rahman baru kembali ke tanah air pada Desember lalu, tepat saat ibunya, Khaleda Zia, berada dalam kondisi kritis hingga akhirnya wafat hanya beberapa hari setelah kepulangannya.
“Ini adalah negara saya, saya lahir di sini, saya dibesarkan di sini, jadi tentu saja itu adalah perasaan yang sangat bahagia. Ketika Anda pulang setelah sekian lama, setiap anak pasti ingin memeluk ibunya. Saya tidak mendapatkan kesempatan itu,” ungkap Rahman dengan nada getir.
Perjalanan Rahman tidak lepas dari badai kontroversi. Di masa lalu, ia sempat terjerat tuduhan korupsi hingga hukuman seumur hidup terkait serangan granat tahun 2004 tuduhan yang ia klaim bermotif politik dan kini telah dibersihkan pasca-jatuhnya rezim Hasina.
Secara ksatria, ia menunjukkan sikap rekonsiliatif terhadap masa lalu partainya yang dianggap penuh gejolak.
“Jika ada kesalahan yang tidak diinginkan, kami meminta maaf untuk itu,” ucapnya rendah hati.
Kini, dengan mandat besar di tangan, Rahman mengakui bahwa tugas membangun kembali Bangladesh yang ia sebut “hancur” oleh rezim sebelumnya adalah misi yang sangat berat. Masyarakat kini menanti, apakah sang pewaris dinasti ini mampu membuktikan janji untuk membawa perubahan yang lebih baik dari pendahulunya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














