
NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Di atas kertas, ekonomi Amerika Serikat (AS) tampak seperti mesin yang perkasa. Pasar saham mencetak rekor, output nasional melonjak, dan angka pengangguran tetap rendah. Namun, di balik angka-angka mentereng tersebut, jutaan warga Amerika justru merasa sedang hidup dalam bayang-bayang resesi.
Fenomena paradoks ini kini dikenal dengan istilah “Boomcession”. Sebuah kondisi di mana ekonomi tampak booming secara makro, namun tekanan finansial (resesi) justru menghimpit rumah tangga secara mikro.
Paradoks yang Belum Pernah Terjadi
Matt Stoller, Direktur Riset American Economic Liberties Project, menjadi sosok yang memperkenalkan istilah ini. Ia melihat adanya pemutusan hubungan (disconnect) yang nyata antara data pemerintah dengan isi dompet masyarakat biasa.
“Secara tradisional, ekonomi berjalan sangat baik. Tetapi orang-orang biasa mengatakan sebaliknya,” ujar Stoller, seperti dikutip CNBC International, Kamis (19/2/2026).
Kondisi ini begitu unik hingga membuat para pakar ekonomi veteran pun terheran-heran. Kepala Ekonom KPMG, Diane Swonk, mengakui bahwa situasi ini merupakan anomali sejarah yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
“Saya sudah berkecimpung di bidang ini selama 40 tahun, dan saya belum pernah melihat hal seperti ini,” kata Swonk.
Akar dari perasaan “resesi” ini adalah harga kebutuhan pokok yang tak kunjung bersahabat. Sejak 2020, kenaikan harga makanan dan perumahan menjadi beban terberat bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Tekanan ini semakin nyata jika melihat data Federal Reserve Bank of New York. Pada kuartal IV 2025, utang kartu kredit masyarakat AS menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni US$1,28 triliun (sekitar Rp20.480 triliun). Tanpa lagi adanya stimulus pandemi, banyak keluarga kini merasa sangat rentan.
Sektor tenaga kerja juga mengirimkan sinyal yang membingungkan. Meski produktivitas mencapai rekor sebagian berkat adopsi AI banyak perusahaan raksasa seperti Nike, Amazon, dan UPS justru melakukan pemutusan hubungan kerja.
Di sisi lain, keuntungan dari pasar saham yang melambung ternyata hanya dinikmati oleh segelintir orang. Joanne Hsu, Direktur Survei Konsumen University of Michigan, menjelaskan bahwa pertumbuhan pasar modal tidak memberikan efek tetesan ke bawah (trickle-down) bagi warga yang tidak memiliki aset finansial.
“Jika Anda memiliki aset yang nilainya sangat tinggi, Anda merasa didukung. Tetapi pasar saham yang kuat tidak berarti apa-apa jika Anda tidak memiliki saham,” tegas Joanne Hsu.
Visi yang Berbeda tentang Resesi
Ketimpangan persepsi ini terlihat jelas dalam survei terbaru. Hampir tiga perlima warga AS percaya bahwa negara mereka sudah berada dalam resesi, meski secara teknis ekonomi masih tumbuh. Jajak pendapat dari Snap Finance menunjukkan tekanan paling hebat dirasakan oleh mereka yang memiliki skor kredit rendah.
Menurut ekonom senior NerdWallet, Elizabeth Renter, fenomena boomcession ini menjadi pengingat keras bagi para pembuat kebijakan. Ia menilai pertumbuhan ekonomi secara agregat (total) tidak bisa lagi dijadikan satu-satunya tolok ukur kesejahteraan.
Kini, sementara para politikus membanggakan data PDB di atas mimbar, jutaan warga AS di meja makan mereka masih harus berhitung keras untuk sekadar membayar tagihan bulan depan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












