Aston Martin PHK 20% Karyawan untuk Hemat Rp908 Miliar di Tengah Kerugian Membengkak

0
Aston Martin
Ilustrasi mobil Aston Martin.Foto : astonmartin.com

NARASITODAY.COM, GAYDON – Kilau mobil mewah Aston Martin meredup di penghujung tahun 2025. Di balik desain elegan dan deru mesinnya yang ikonik, pabrikan asal Inggris ini tengah berjuang melewati salah satu periode paling bergejolak dalam sejarahnya. Langkah pahit pun diambil: Aston Martin resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 500 karyawan atau setara 20% dari total tenaga kerjanya.

Keputusan drastis ini diambil demi menghemat biaya operasional sebesar 40 juta pound (Rp908,24 miliar). Hal ini menyusul laporan keuangan yang menyesakkan, di mana kerugian sebelum pajak perusahaan membengkak menjadi 363,9 juta pound (Rp8,26 triliun) sepanjang tahun fiskal 2025. Angka ini melonjak tajam dibanding kerugian tahun sebelumnya yang sebesar 289,1 juta pound.

Baca Juga :  Gelombang Panas Ekstrem Melanda Australia Tenggara, Ancaman Kebakaran Hutan Semakin Meningkat

Keputusan Sulit di Akhir Tahun

Bagi manajemen yang dipimpin oleh miliarder Lawrence Stroll, tahun 2025 adalah rangkaian ujian yang tak kunjung usai. Setelah sempat merumahkan 170 pekerja di awal tahun, kondisi ekonomi global memaksa mereka melakukan efisiensi yang lebih dalam.

“Program terbaru ini pada akhirnya akan berdampak pada kepergian hingga 20% dari tenaga kerja kami yang berharga,” tulis pernyataan resmi manajemen Aston Martin dikutip dari Guardian.

Manajemen mengungkapkan bahwa meski mereka telah melakukan penyesuaian organisasi pada awal 2025, realitas pasar berkata lain. Mereka terpaksa mengambil keputusan sulit di akhir tahun untuk memastikan kelangsungan bisnis di masa depan.

Terhimpit Geopolitik dan Tarif Dagang

Tekanan yang dialami “mobil James Bond” ini bukan tanpa alasan. Melemahnya permintaan pasar global diperparah oleh kebijakan proteksionisme Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Kenaikan tarif perdagangan menjadi pukulan telak yang mengganggu rantai pasokan dan margin keuntungan.

Baca Juga :  Telefonica Dikabarkan Siapkan Pemangkasan 6.000 Karyawan, Perusahaan Masih Bungkam

Dalam penjelasannya, pihak perusahaan menyebutkan bahwa tahun 2025 menjadi pengingat keras bagi industri barang mewah.

“Tahun ini membuat satu kenyataan menjadi tidak mungkin untuk diabaikan: bahkan merek mewah yang paling tangguh sekalipun tidak kebal dari gesekan geopolitik, dan hambatan yang tercipta dari rintangan perdagangan ini telah membentuk kembali lingkungan kompetitif,” ungkap manajemen.

Menuju Organisasi yang Lebih Ramping

CEO Aston Martin, Adrian Hallmark, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi besar untuk menyelamatkan perusahaan dari keterpurukan yang lebih dalam. Sejak melantai di bursa saham pada 2019, nilai saham perusahaan terus merosot akibat krisis inventaris dan tantangan produksi.

Baca Juga :  Temukan Kedamaian di 5 Danau Bogor, Pilihan Wisata Keluarga Terbaik

Bahkan, perusahaan sempat menjual hak penamaan permanen tim Formula One miliknya senilai 50 juta pound (Rp1,13 triliun) sebagai upaya menambah napas likuiditas.

“Proses untuk mengurangi jumlah karyawan sudah berjalan, yang mana ini penting untuk menjadikan kami lebih ramping dan efektif di masa depan,” ujar Adrian Hallmark pada Rabu waktu setempat.

Kini, masa depan fasilitas manufaktur di Gaydon dan St Athan bergantung pada seberapa cepat transformasi ini mampu memulihkan kepercayaan pasar di tengah lanskap kebijakan global yang semakin tidak terduga.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com