NARASITODAY.COM, JERUSALEM – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Iran memberikan respons agresif atas serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, dengan melancarkan serangan balasan cepat ke tujuh negara di kawasan tersebut yang menjadi basis militer AS, sekaligus menargetkan wilayah Israel secara langsung.
Dilansir dari Reuters, Minggu (1/3/2026), serangan besar-besaran Iran itu melibatkan penjatuhan rudal balistik dan pesawat tak berawak (drone). Suasana di Israel langsung berubah drastis; sirine tanda bahaya terus menderu membelah udara dari utara hingga selatan, menandai kedatangan proyektil itu.
Kekacauan dan Kesiapsiagaan Medis
Situasi darurat segera diterapkan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan keadaan darurat nasional sambil memperingatkan warga tentang ancaman serangan rudal dan drone. Militer Israel tak sampai setengah hati; puluhan ribu pasukan cadangan dipanggil untuk bertugas, termasuk untuk memperkuat perbatasan darat.
Saat itu, Israel bak negara dalam mode “lockdown” total. Pemerintah melarang publik berkumpul, menutup sekolah dan tempat kerja, serta memerintahkan masyarakat mengikuti panduan darurat. Polisi mendesak warga menghindari perjalanan yang tidak penting agar kendaraan keamanan dan darurat dapat bergerak bebas.
Di antara kepanikan itu, dunia medis bergerak cepat. Di Pusat Medis Sheba dekat Tel Aviv, petugas medis bergegas memindahkan seluruh bangsal rumah sakit ke fasilitas bawah tanah. Suasana riuh rendah aktivitas medis bergeser ke ruangan-ruangan yang terlindungi.
“(Sheba) beralih ke mode kesiapan tingkat lanjut sebagai persiapan untuk serangan di Iran. Kami sedang dalam proses memindahkan semua departemen dan layanan kami ke area yang terlindungi,” jelas Itai Pessach, direktur jenderal pusat medis tersebut.
Di Antara Ketakutan dan Keteguhan Hati
Di Yerusalem, ledakan dari pencegatan rudal membuat warga bergegas membeli makanan dan menarik uang tunai. Namun, pemandangan yang sedikit berbeda justru terlihat di pantai Tel Aviv pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Dilindungi sistem pertahanan udara yang canggih, sejumlah warga justru memilih untuk “kabur” ke pantai menjelang respons awal Iran tiba.
Beberapa di antaranya mengaku merasa aman dan justru menunjukkan dukungan terhadap operasi militer tersebut. Shira Dorany, salah satu warga yang terlihat berjalan-jalan di sepanjang promenade tepi Mediterania, mengungkapkan rasa penentasannya.
“Sudah waktunya,” kata Shira dengan tegas. “Saya tidak ingin menunggu lagi apa yang akan datang. Sekarang, itu akan datang. Mari kita selesaikan,” ia menambahkan.
Sentimen serupa diutarakan oleh Maayan Eliasi (43 tahun) yang juga berada di pantai Tel Aviv. Baginya, serangan Israel terhadap Iran adalah sebuah keharusan. “Untuk menunjukkan bahwa kami kuat. Kami tidak takut, dan kami di sini untuk melindungi tanah kami,” tegas Maayan.
Dampak dan Sejarah Konflik
Meski suara ledakan menggelegar, hanya ada sedikit laporan mengenai kerusakan atau cedera akibat serangan rudal awal Iran. Hal ini tak lepas dari kesiapan warga Israel yang umumnya memiliki akses ke tempat perlindungan bom dan telah diperingatkan oleh sistem peringatan nasional.
Israel sendiri telah mengantisipasi serangan ini dengan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan sipil pada Sabtu (28/2/2026), meskipun perbatasan darat dengan Mesir dan Yordania tetap terbuka.
Kedutaan Besar AS di Yerusalem juga mengambil langkah preventif dengan menyarankan personel pemerintah untuk berlindung di tempat, setelah sebelumnya memperingatkan staf untuk meninggalkan negara itu pada Jumat (27/2/2026).
Konflik ini menandai eskalasi serius pasca perang udara tahun lalu. Pada Juni 2025 lalu, Israel dan Iran terlibat perang selama 12 hari yang menewaskan lebih dari 30 orang di Israel dan 900 orang di Iran. Kini, sejarah gelap itu kembali mengulang, memaksa Tel Aviv dan kota-kota lainnya untuk sekali lagi berlindung di balik beton dan sistem pertahanan udara.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














