Retakan di Aliansi, NATO Kecam Aksi AS di Iran

0
Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto : aa.com.tr

NARASITODAY.COM, PARISAliansi militer NATO kini berada di titik nadir setelah dua sekutu utama Amerika Serikat (AS), Prancis dan Kanada, meluncurkan kecaman keras terhadap operasi militer Washington dan Tel Aviv di Iran. Sikap kritis ini menandai perpecahan mendalam di tingkat global terkait serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka menyatakan bahwa tindakan AS dan Israel tidak memiliki dasar legalitas yang kuat. Berbicara pada Selasa waktu setempat, Macron menegaskan posisi Prancis yang menjaga jarak dari operasi tersebut.

“Amerika Serikat dan Israel memutuskan untuk melancarkan operasi militer, yang dilakukan di luar hukum internasional, yang tidak dapat kami setujui,” ujar Macron, sebagaimana dikutip dari AFP, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga :  Netanyahu Puji Keberanian Demonstran Iran, Harapkan Runtuhnya "Belenggu Tirani"

Diplomasi yang Terabaikan

Nada penyesalan juga datang dari seberang samudera. Perdana Menteri Kanada yang baru, Mark Carney, menyebut konflik ini sebagai simbol runtuhnya sistem kerja sama dunia. Dalam pidatonya di Sydney, Carney mengkritik cara Washington dan Tel Aviv yang bergerak secara unilateral tanpa menghiraukan rekan aliansi mereka.

“Amerika Serikat dan Israel telah bertindak tanpa melibatkan PBB atau berkonsultasi dengan sekutu, termasuk Kanada,” ungkap Carney. Ia menambahkan bahwa situasi ini adalah “contoh lain dari kegagalan tatanan internasional,” sembari menyerukan “deeskalasi permusuhan yang cepat.”

Meski kedua pemimpin tersebut tetap menyalahkan Teheran atas program nuklirnya yang berbahaya, mereka sangat menyayangkan hilangnya jalur diplomasi yang diatur dalam hukum internasional.

Baca Juga :  Diguyur Hujan 3 Jam Sungai Cidangdeur Meluap Warga Was-was

Ancaman Dagang Trump dan Perlawanan Spanyol

Terasa dari ketegangan yang merambat ke wilayah Mediterania. Presiden AS Donald Trump tidak menerima kritik tersebut dengan tangan terbuka. Ia justru meningkatkan tensi dengan mengancam Spanyol setelah pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez menolak izin penggunaan pangkalan militer untuk serangan ke Iran.

Sanchez, yang dikenal sebagai salah satu penentang terkeras kebijakan Trump di Eropa, berpegang teguh bahwa pangkalan militer di negaranya hanya boleh digunakan untuk kegiatan yang sesuai dengan Piagam PBB.

Menanggapi pembangkangan tersebut, Trump tidak hanya mengancam akan memutus semua jalur perdagangan dengan Madrid, tetapi juga melontarkan kecaman kepada Inggris yang dianggap kurang kooperatif dalam kampanye militer ini.

Baca Juga :  Zulhas Sebut Indonesia Tertinggal 20 Tahun dalam Teknologi Pengolahan Sampah

Pasar yang Berguncang

Di balik retorika politik di istana-istana negara, dunia sedang menanggung dampaknya. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas kematian Khamenei telah mencekik pasokan energi global. Harga minyak meroket, dan bursa saham di Asia, Eropa, hingga Wall Street memerah karena kekhawatiran akan depresi ekonomi baru.

Prancis dan Kanada kini berdiri di posisi sulit; mendukung tujuan untuk melucuti ancaman nuklir Iran, namun menolak cara-cara koboi yang mengabaikan kedaulatan hukum internasional.

“Kanada menegaskan kembali bahwa hukum internasional mengikat semua pihak yang berperang,” pungkas Carney, mengingatkan bahwa di tengah desing rudal, aturan main tetap harus dijaga.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com