Di Balik Bayang Geopolitik, AHY Ingatkan 5 Mega Tren Global yang Tak Bisa Ditunda

0
AHY
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono.Foto : kompas.com

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Suasana kekeluargaan dan kekhidmatan bulan suci Ramadhan menjadi latar belakang yang kontras dengan peringatan serius yang dilontarkan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dalam acara buka puasa bersama di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026), AHY menyoroti bahwa ancaman bagi peradaban manusia tidak hanya datang dari konflik perang atau geopolitik semata, melainkan dari lima mega tren global yang menuntut perhatian mendesak.

Di hadapan kader dan tamu undangan, AHY menekankan bahwa dunia sedang berada di persimpangan jalan yang kritis. Ia menilai kelima tantangan ini bersifat universal dan seharusnya menjadi perekat bagi seluruh bangsa di dunia, bukan justru sumber perpecahan.

“Di luar persoalan geopolitik dan keamanan internasional ini, dunia juga terus menghadapi tantangan-tantangan global lainnya yang sama seriusnya, bahkan tidak bisa menunda besok, lusa, tahun berikutnya. Tantangan-tantangan itulah yang seharusnya menyatukan kita semua, bukan justru memecah belah. Paling tidak kita memetakan ada lima tren global, lima mega tren,” kata AHY dalam sambutannya.

Baca Juga :  Peringatan HJB ke-543 di Kecamatan Cigudeg Berlangsung Meriah dengan Beragam Kegiatan

Ancaman Nyata dari Bumi yang Semakin Tua

Poin pertama yang diangkat AHY adalah krisis iklim. Ia menekankan bahwa pemanasan global bukan lagi sekadar skenario masa depan yang abstrak, melainkan realitas pahit yang kini telah menggigit keras. Indonesia, menurutnya, telah menjadi saksi bisu dari kekacauan cuaca ini.

AHY menggambarkan bagaimana pola cuaca ekstrem banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau kini menjadi pemandangan biasa. Bahkan fenomena siklon tropis yang dahulu jarang menyentuh ekuator, kini berani menghantam wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Dan ini tentunya adalah bentuk tanggung jawab kita untuk generasi penerus kita. Kita ingin anak cucu kita juga hidup dengan baik dan nyaman di bumi yang hanya ada satu ini,” tegasnya.

Tekanan Populasi dan Urbanisasi

Aspek kedua yang disorot adalah dilema pertumbuhan populasi yang berbanding terbalik dengan ketersediaan sumber daya alam. AHY memperingatkan bahwa kelangkaan sumber daya dapat memicu kompetisi yang tidak sehat antarnegara, yang berujung pada konflik bersenjata jika tidak dikelola dengan kebijaksanaan.

Baca Juga :  Apresiasi Polri untuk Bripka Joko, 23 Tahun Jadi Penggali Kubur Sukarela

“Kompetisi yang tidak bisa dikelola dengan baik bisa mengakibatkan konflik bersenjata, perang antarnegara. Dan sekali lagi, inilah mengapa Indonesia yang dikaruniai dengan begitu besar kekayaan alam juga tidak boleh merasa itu akan hadir dengan sendirinya. Kita harus mengikhtiarkan agar sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan benar-benar bisa didistribusikan secara berkeadilan,” ujarnya.

Isu ketiga adalah laju urbanisasi yang kian deras. Dengan prediksi sekitar 70% populasi dunia, termasuk Indonesia, akan menghuni perkotaan, AHY menekankan bahwa persoalan tidak berhenti pada tata ruang semata. Daya dukung kota dan marjinalisasi masyarakat menjadi ancaman nyata. Ia mendorong konsep pembangunan inklusif agar kesenjangan antara desa dan kota tidak semakin melebar.

“Kita ingin desa dan kota semakin maju. Kita ingin masyarakat tidak ada yang menjadi marjinal di lingkungannya sendiri. Dan itulah pentingnya pembangunan yang inklusif dan berkeadilan tadi,” katanya.

Baca Juga :  SBY Analisis Fluktuasi Harga Energi dan Tantangan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global

Disrupsi Teknologi dan Kesenjangan Sosial

Memasuki dimensi modern, AHY menyoroti disrupsi teknologi sebagai persimpangan keempat. Kehadiran artificial intelligence (AI) dan robotika dianggapnya sebagai ujian bagi bangsa-bangsa untuk beradaptasi atau tertinggal. Ia menolak agar Indonesia menjadi penonton di era digital ini.

“Apakah artificial intelligence, apakah robotika ini benar-benar menjadi rezim pembangunan ke depan? Bangsa-bangsa sedunia akan mau dan harus mau mengikuti arah dan kecepatan kemajuan teknologi tadi, karena bangsa yang tertinggal tentu akan menjadi pecundang, akan menjadi penonton. Dan Indonesia tidak akan menjadi pecundang dan penonton, karena kita ingin ini semua bisa menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi, pengungkit produktivitas, dan membuka lapangan pekerjaan baru,” tegas AHY.

Terakhir, AHY menyoroti widening gap atau kesenjangan sosial-ekonomi yang semakin lebar. Menurutnya, disparitas antarwilayah dan kemiskinan ekstrem adalah luka yang harus segera disembuhkan. Upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan harus menjadi prioritas mutlak abad ke-21 agar bangsa ini tidak hancur oleh ketimpangannya sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com