NARASITODAY.COM,BRASILIA – Peta arus energi global tengah mengalami pergeseran drastis. Di tengah ketegangan geopolitik yang mencekik jalur pasokan tradisional di Timur Tengah, Brasil muncul sebagai “pelabuhan harapan” baru bagi raksasa ekonomi Asia.
Berdasarkan data terbaru pemerintah Brasil yang dirilis pekan ini, China mencatatkan rekor pembelian minyak mentah terbesar sepanjang sejarah dari negara Amerika Latin tersebut pada Maret 2026. Negeri Tirai Bambu itu mengimpor setidaknya 1,6 juta barel per hari (bph), melampaui rekor sebelumnya sebesar 1,46 juta bph yang tercipta pada Mei 2020.
Lonjakan permintaan dari China ini mendorong total ekspor minyak mentah Brasil ke pasar global menyentuh angka 2,5 juta bph. Angka ini merupakan volume bulanan tertinggi kedua dalam sejarah Brasil, meningkat 12,4% dibandingkan bulan Februari.
Mencari Jalan Tikus di Tengah Konflik
Efek domino perang dan penutupan jalur strategis menjadi motor utama fenomena ini. Ketika Selat Hormuz jalur nadi yang biasanya mengalirkan 20% pasokan minyak dunia tak lagi bisa diandalkan, para importir besar terpaksa memutar haluan ke wilayah Atlantik.
Analis intelijen pasar dari StoneX, Bruno Cordeiro, menjelaskan bahwa situasi ini memang sudah diprediksi sebelumnya.
“Kenaikan ekspor sebenarnya sudah diperkirakan, karena penutupan Selat Hormuz membuat negara-negara pengimpor secara intensif mencari pasokan dari sumber alternatif,” ujar Cordeiro.
India mengikuti jejak China dengan menjadi tujuan ekspor terbesar kedua bagi minyak Brasil. Bagi India, Brasil bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas energi dalam negeri saat jalur konvensional terputus akibat konflik.
Teka-teki Diesel dan Dominasi Rusia
Namun, di balik kegemilangan ekspor minyak mentahnya, Brasil menghadapi tantangan di sektor bahan bakar domestik. Impor diesel Brasil justru merosot 25% pada Maret menjadi 1,05 miliar liter.
Hal yang menarik adalah pergeseran asal pasokan diesel tersebut:
- Amerika Serikat: Pangsanya anjlok drastis dari 8,3% menjadi kurang dari 1%.
- Rusia: Memperkuat cengkeramannya dengan menguasai 75% pasar impor diesel Brasil, naik dari 58% pada bulan sebelumnya.
Cordeiro menilai menghilangnya diesel AS dari pasar Brasil disebabkan oleh strategi bisnis Washington. Beliau menyebut bahwa AS kemungkinan besar mengalihkan pasokannya ke wilayah yang berani membayar harga lebih tinggi, terutama ke pasar Asia.
Meski persentase Rusia meningkat tajam secara proporsional, Cordeiro mencatat bahwa secara volume, pengiriman dari Negeri Beruang Merah tersebut sebenarnya relatif stabil dibandingkan bulan Februari.
Penurunan total volume impor ini menjadi sinyal peringatan bagi Brasil, mengingat negara tersebut masih bergantung pada impor untuk memenuhi seperempat kebutuhan diesel nasionalnya.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














