Hezbollah Luncurkan Roket ke Utara Israel Setelah Serangan Hebat Israel di Lebanon

0
Hezbollah
Ilustrasi Kamp Pengungsi Suriah Di Lebanon.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIRUTLangit utara Israel kembali membara pada Kamis (9/4/2026) dini hari. Kelompok militan Hezbollah meluncurkan serangkaian roket ke wilayah tersebut, menandai berakhirnya ketenangan singkat pasca-kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.

Serangan ini bukan tanpa alasan. Melansir Reuters, Hezbollah menegaskan bahwa aksi militer ini merupakan respons langsung atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Sebelumnya, militer Israel melancarkan operasi udara masif yang disebut-sebut sebagai serangan terbesar ke Lebanon sejak konflik pecah.

Tragedi di Jantung Kota

Hanya berselang sehari sebelum roket Hezbollah meluncur, Lebanon didera duka mendalam. Serangan udara Israel menggempur berbagai titik, meruntuhkan bangunan dan menyisakan puing-puing di Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan.

Baca Juga :  Iran Beroleh Draf Memo Kesepahaman dengan AS untuk Akhiri Konflik

Hasilnya memilukan yaitu lebih dari 250 nyawa melayang dan 1.100 lainnya luka-luka. Di Beirut saja, 91 orang tewas dalam satu malam. Pemandangan di lapangan menggambarkan situasi yang mencekam; tim penyelamat bekerja ekstra keras mengevakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan, sementara rumah sakit mulai kewalahan karena kekurangan ambulans dan stok darah.

Kondisi ini memicu reaksi keras dari dunia internasional. Kepala HAM PBB, Volker Türk, menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini.

“Skala korban dan kehancuran di Lebanon hari ini sangat mengerikan,” ujar Türk mengecam dampak kemanusiaan yang terjadi.

Dualisme Tafsir Kesepakatan

Di balik desing peluru dan ledakan, terjadi kekacauan diplomatik mengenai definisi “damai”. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Lebanon tidak masuk dalam peta gencatan senjata yang mereka sepakati dengan Iran. Senada dengan itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut ada kesalahpahaman dari pihak Teheran terkait ruang lingkup kesepakatan tersebut.

Baca Juga :  Laksanakan Arahan Bupati, Wabup Bogor Jaro Ade Pimpin Peringatan Nuzulul Qur'an, Tekankan Pentingnya Akhlak Mulia

Sebaliknya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menganggap penghentian kekerasan di Lebanon adalah pilar utama kesepakatan. Hezbollah pun merasa mereka adalah bagian dari pakta tersebut dan menuduh Israel melakukan “pembantaian” secara sepihak.

Harapan yang Kembali Pupus

Konflik ini telah menciptakan luka menganga bagi warga sipil. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon kini hidup di pengungsian setelah infrastruktur vital seperti jembatan, rumah sakit, dan pembangkit listrik hancur. Upaya Israel memutus akses Lebanon Selatan untuk dijadikan zona penyangga kian memperparah krisis.

Baca Juga :  Washington Dituntut Bersikap Adil Usai Israel Luncurkan Serangan Besar di Gaza

Bagi warga Lebanon yang sempat mengemas barang-barang mereka dengan harapan bisa pulang, serangan terbaru ini adalah mimpi buruk yang terulang.

“Semoga gencatan senjata benar-benar terwujud. Lebanon tidak sanggup lagi menanggung ini,” rintih seorang pengungsi yang kini kembali diliputi ketakutan.

Kini, dengan ancaman balasan dari Korps Garda Revolusi Iran dan upaya diplomasi Presiden Prancis Emmanuel Macron yang masih berpacu dengan waktu, nasib perdamaian di Timur Tengah berada di titik nadir.

Angka kematian yang telah melampaui 1.500 jiwa sejak awal Maret termasuk ratusan anak-anak menjadi pengingat pahit bahwa di tengah adu argumen politik, warga sipil tetap menjadi pihak yang paling menderita.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber