NARASITODAY.COM, Jakarta – Gejolak perang yang terus meningkat dan merebak ke berbagai penjuru kawasan, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil sikap tegas mengenai batasan misi militernya. Washington menegaskan tidak akan memperluas tujuan militernya di Iran, memastikan bahwa fokus operasi tetap pada sasaran awal untuk mencegah eskalasi yang tak terkendali.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam pernyataannya pada Kamis (5/3/2026), menekankan bahwa operasi militer yang dinamakan Operation Epic Fury itu tetap berada pada koridor yang telah ditentukan sejak awal, yakni melumpuhkan kemampuan militer Iran dan menggagalkan ambisi nuklir Teheran.
“Tidak ada perluasan dalam tujuan kami. Kami tahu persis apa yang ingin kami capai,” tegas Hegseth.
Pernyataan ini muncul menyusul wawancara sebelumnya antara Presiden AS Donald Trump dengan Reuters, di mana ia menyiratkan keterlibatan AS dalam menentukan arah politik Iran ke depan. Namun, Pentagon kembali meluruskan bahwa di lapangan, misi utama tetap bersifat defensif dan ofensif terbatas, termasuk menghancurkan rudal, fasilitas produksi, dan kekuatan angkatan laut Iran.
Getaran Perang Meluas ke Kawasan
Meski tujuan AS ditegaskan tidak meluas, dampak dari konflik ini justru menyebar cepat melampaui perbatasan Iran. Serangan balasan Teheran tercatat telah menghantam Israel, Uni Emirat Arab (UAE), dan Qatar. Di Bahrain, petugas pemadam kebakaran harus bekerja keras memadamkan kobaran api di sebuah kilang minyak akibat terkena serangan rudal.
Sementara itu, Azerbaijan menuduh Iran meluncurkan drone ke wilayahnya, memaksa mereka menutup wilayah udara di bagian selatan selama 12 jam. Menurut Hegseth, agresi Iran terhadap negara-negara tetangga ini justru menjadi bumerang politik bagi Teheran.
Aksi balas dendam tersebut, ujar Hegseth, justru memperkuat solidaritas negara-negara kawasan dengan Amerika Serikat.
2.000 Target Dihantam
Dari sisi operasional, militer AS mengklaim telah mencapai kemajuan signifikan. Komandan United States Central Command (CENTCOM), Brad Cooper, mengungkapkan bahwa pasukan AS telah menyerang lebih dari 2.000 target di Iran sejak operasi dimulai akhir pekan lalu.
Dalam daftar target tersebut termasuk kekuatan maritim Iran yang sudah diporakporandakan. “Pasukan AS telah menghancurkan sekitar 30 kapal perang Iran, termasuk kapal induk drone milik Teheran yang diserang pada Kamis,” jelas Cooper.
Ia menambahkan bahwa strategi ke depan akan semakin spesifik untuk memutus rantai pasok senjata musuh. “Seiring kita memasuki fase berikutnya dari operasi ini, kami akan secara sistematis membongkar kemampuan produksi rudal Iran,” tegas Cooper.
Risiko Korban dan Peringatan Keras
Namun, perang yang berjalan sistematis itu tidak lepas dari risiko korban jiwa. Militer AS mengonfirmasi identitas enam tentara cadangan yang tewas setelah sebuah drone menghantam fasilitas militer AS di Port Shuaiba, Kuwait. Presiden Trump dan sejumlah pejabat senior sebelumnya telah memperingatkan potensi korban ini sebagai konsekuensi dari konflik bersenjata.
Menutup pernyataannya, Hegseth memberi peringatan keras kepada Tehran agar tidak salah menilai kapasitas tempur Amerika. Ia menegaskan bahwa AS memiliki daya tahan yang cukup untuk mempertahankan operasi jangka panjang.
“Iran berharap kami tidak mampu mempertahankan perang ini. Itu adalah salah perhitungan yang sangat besar,” pungkas Hegseth.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














