Panic Buying BBM Melanda Dunia Akibat Konflik Timur Tengah

0
ASEAN
Ilustrasi Mengisi bahan bakar mobil secara manual di stasiun pengisian bahan bakar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKRTA – Bayangan akan krisis energi mulai menjadi kenyataan di berbagai belahan dunia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran serta ancaman penutupan Selat Hormuz jalur arteri 20% pasokan minyak global telah memicu gelombang panic buying bahan bakar minyak (BBM).

Dari jalanan Seoul yang dingin hingga SPBU di Perth dan London, kecemasan warga terhadap kelangkaan dan lonjakan harga mengubah stasiun pengisian bahan bakar menjadi pusat aktivitas yang kacau.

Di Korea Selatan (Korsel), gejala kepanikan itu terlihat paling nyata. Suasana di ibu kota Seoul, Rabu (4/3/2026), diguncang oleh antrean kendaraan yang mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar. Di tengah lonjakan harga minyak global dan gejolak pasar keuangan, warga berlomba-lomba mengisi penuh tangki kendaraan mereka.

Seorang pengemudi di Seoul mengungkapkan kegelisahan yang mewakili banyak orang kepada media lokal. “Saya isi sekarang karena takut besok lebih mahal,” ujarnya tegas.

Meski belum dinyatakan sebagai panic buying resmi oleh pemerintah, perilaku konsumen tersebut mencerminkan kecemasan yang mendalam. Laporan kantor berita Yonhap menyoroti tekanan berat yang menghantam ekonomi Korsel akibat perang.

Baca Juga :  Indonesia Women's Open 2025: Aihi Takano Siap Tampil di Turnamen Golf Pertama di Tanah Air

Indeks Kospi anjlok lebih dari 12% pada Rabu, bahkan sempat mengaktifkan mekanisme penghentian sementara perdagangan (sidecar). Dalam dua hari terakhir, indeks saham utama itu merosot hampir 20%, sementara nilai tukar won terhadap dolar AS menembus level 1.500 won tertinggi dalam 17 tahun.

Harga bensin rata-rata di sana kini melampaui 1.800 won (sekitar Rp21.000) per liter. Situasi ini diperparah oleh laporan bahwa 10 kapal tanker minyak dibakar dalam serangan Iran, menyebabkan 26 kapal tanker milik Korsel tertahan di sekitar Selat Hormuz.

Sebagai konsumen minyak mentah terbesar ketujuh dunia yang bergantung pada impor lebih dari 90% kebutuhan energinya dengan 70,7% minyak mentah melewati Selat Hormuz Korsel berdiri di ujung tanduk.

Antrean Malam dan Peringatan Tegas di Australia

Gelombang kecemasan serupa melanda Benua Kanguru. Di Perth, Australia Barat, ribuan pengendara memenuhi jalan pada Selasa malam, mengantre panjang demi mendapatkan pasokan bahan bakar.

Menyaksikan antrean panjang tersebut, Perdana Menteri (PM) Australia Barat Roger Cook berupaya menenangkan warga sambil memberi peringatan tegas kepada pelaku usaha. “Jangan menaikkan harga hanya karena orang khawatir tentang masa depan mereka,” tegas Cook. Ia menambahkan, “Saat ini Anda memiliki pasokan bahan bakar yang berkelanjutan.”

Baca Juga :  Ketegangan di Timur Tengah Membayangi Ekonomi Eropa, Proyeksi Resesi Semakin Dekat

Namun, di sisi lain, aksi pengambilan keuntungan mulai bermunculan. Badan otomotif utama Queensland mengancam akan melaporkan pengecer bahan bakar ke Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) atas “perilaku tidak adil”. Dalam 24 jam, lebih dari 210 SPBU di Queensland Tenggara menaikkan harga menjadi 219,9 sen per liter.

Rowan Lee dari Asosiasi Pemasar Minyak dan Gas Rumah Tangga Australasia mencoba menegasikan kekhawatiran itu dengan data logistik.

“Mayoritas minyak Australia berasal dari Singapura, bukan Timur Tengah, jadi meskipun harga di pasar mungkin naik, tidak akan ada masalah pasokan,” jelas Lee.

“Waktu tunda Anda hingga dua minggu… masih terlalu dini untuk melihat bagaimana ini akan terjadi.”

Menteri Energi Chris Bowen juga menjamin keamanan pasokan, menyatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan para kepala eksekutif perusahaan kilang minyak. “Perusahaan-perusahaan telah memberitahu bahwa mereka yakin akan pasokan minyak hingga bulan Mei,” tegasnya.

Baca Juga :  Taksi Otonom dan Teknologi Canggih Lainnya Terhenti Saat Kota San Francisco Digelayuti Kegelapan

Kekhawatiran di Inggris dan himbauan Anti-Panic Buying

Di belahan bumi utara, Inggris juga tak luput dari imbas gejolak. Kota-kota besar seperti London, Manchester, dan Liverpool melaporkan waktu tunggu hingga lebih dari satu jam untuk mengisi bahan bakar.

Otoritas setempat, sebagaimana dilansir Independent, segera mengeluarkan peringatan kepada para pengendara untuk menghindari sikap panik, meskipun harga BBM diperkirakan akan naik.

“Harga di pompa bensin sedang naik, biaya grosir telah meningkat bahkan sebelum serangan akhir pekan lalu di Iran,” jelas otoritas tersebut. Namun mereka menambahkan, “Harga rata-rata di pompa bensin hari ini masih di bawah harga awal tahun lalu.”

Menghadapi antrean yang memanjang, otoritas Inggris menyerukan kewaspadaan yang proporsional.

“Perdagangan bahan bakar telah melaporkan peningkatan permintaan, yang memang sudah diperkirakan, tetapi pengemudi pada umumnya mengikuti saran untuk tetap mengikuti rutinitas pengisian bahan bakar mereka seperti biasa,” ungkapnya.

Sangat ironis membuang waktu untuk mengantre bila tak perlu.

“Tidak ada gunanya membuang waktu, bahan bakar, dan uang untuk mengantre ketika pengemudi tidak perlu melakukannya,” pungkas otoritas tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com