
NARASITODAY.COM, BOGOR – Aroma ban terbakar menyeruak di antara deru kendaraan yang memadati Jalan Ir. H Juanda, Kota Bogor, pada Kamis (5/3/2026) sore. Di depan gerbang utama Istana Kepresidenan Bogor, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar aksi unjuk rasa, membawa kemarahan atas eskalasi konflik di Timur Tengah ke jantung kota hujan.
Aksi yang berlangsung di tengah suasana bulan suci Ramadan ini sempat diwarnai ketegangan. Pantauan di lokasi menunjukkan massa sempat terlibat aksi saling dorong dengan aparat kepolisian yang berjaga rapat di depan pintu istana. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan saat mahasiswa membakar ban bekas sebagai simbol protes atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Tuntutan untuk Dunia dan RI
Dalam orasinya, mahasiswa menilai agresi militer tersebut bukan hanya soal perebutan kekuasaan, melainkan ancaman nyata bagi kemanusiaan dan kedaulatan sebuah bangsa. Ketua HMI Kota Bogor, Moeltazam, dengan lantang membacakan tuntutan mereka sebelum massa akhirnya membubarkan diri.
“Mengutuk keras segala bentuk agresi militer yang mengancam kedaulatan negara dan keselamatan warga sipil. Kedua, mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengeluarkan resolusi gencatan senjata tanpa syarat serta memastikan penegakan hukum internasional,” tegas Moeltazam di hadapan massa aksi.
Selain isu global, mahasiswa juga menyoroti nasib ribuan WNI yang terjebak di wilayah konflik. Mereka menuntut Pemerintah Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton.
“Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk menyatakan sikap tegas dan independen dalam menyikapi eskalasi konflik ini, sesuai dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif,” lanjutnya.
Ketegangan di Garis Pembatas
Aparat kepolisian yang berjaga berupaya mengarahkan massa agar menjauh dari objek vital sesuai aturan yang berlaku. Kabag Ops Polresta Bogor Kota, Kompol Aca Nana Suryadi, menjelaskan bahwa persinggungan fisik terjadi karena mahasiswa enggan dipindahkan ke titik aksi lain di Jalan Sudirman.
“Masalah dorong-dorongan itu, kita sudah berupaya dari awal bahwa kita selain melindungi mereka agar tidak melanggar hukum, juga agar mereka mau berpindah lokasi ke dekat Starbucks (Jalan Sudirman), cuma mereka kan bersikeras, ya sempat ada dorong-dorongan. Kita kan hanya bisa sebatas dorong mereka,” ungkap Kompol Aca kepada wartawan.
Dilema di Bulan Suci
Di sisi lain, kepolisian menyayangkan aksi bakar ban dan penutupan jalan yang dilakukan di tengah waktu warga bersiap berbuka puasa. Polisi menekankan pentingnya menjaga kondusivitas di bulan suci.
“Ya, secara umum (unjuk rasa) berjalan kondusif. Kita juga kan harus menyeimbangkan dengan kepentingan masyarakat, ini kan Bulan Ramadan, banyak yang mau cari takjil, buat buka puasa. Harusnya kan di bulan suci ini, semuanya dijaga lah ya, apalagi brand-nya mereka itu kan HMI, umat islam mestinya kan lebih faham tentang bagaimana kalau di Bulan Ramadan,” tutur Kompol Aca.
Meski sempat memanas, aksi berakhir dengan tertib menjelang petang. Arus lalu lintas di seputaran Kebun Raya Bogor pun perlahan kembali normal saat para mahasiswa melipat bendera mereka dan meninggalkan lokasi.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













