NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Ekonomi Amerika Serikat mendadak mengerem laju pada Februari 2026. Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis Jumat (6/3/2026) menunjukkan penurunan tak terduga pada sektor tenaga kerja, dengan nonfarm payrolls anjlok sebanyak 92.000 posisi.
Angka ini menjadi kejutan pahit bagi para ekonom yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan tipis sebesar 59.000 pekerjaan. Bersamaan dengan penurunan tersebut, tingkat pengangguran merangkak naik ke angka 4,4%.
Badai Sempurna di Awal Tahun
Penurunan ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan “badai sempurna” dari berbagai kendala operasional. Pemogokan 31.000 pekerja kesehatan di Kaiser Permanente, ditambah cuaca musim dingin ekstrem yang melumpuhkan aktivitas di banyak wilayah, menjadi pukulan utama.
Selain itu, angka bulan Februari juga merupakan koreksi teknis setelah lonjakan di Januari yang sempat mencapai revisi 126.000 posisi. Analis mencatat bahwa pertumbuhan Januari sempat terdistorsi oleh penyesuaian model birth-and-death milik BLS sebuah metode statistik untuk melacak perusahaan baru yang muncul dan tutup.
Pasar tenaga kerja AS sejatinya sedang berupaya mencari titik keseimbangan baru setelah gejolak sepanjang 2025. Sebelumnya, ketidakpastian dipicu oleh penerapan tarif impor global 10% hingga 15% oleh Presiden Donald Trump. Meski Mahkamah Agung AS sempat menolak sebagian kebijakan tersebut, efek domino terhadap stabilitas dunia usaha masih terasa hingga kini.
Di sisi lain, kebijakan imigrasi yang lebih ketat turut mempersempit pasokan tenaga kerja, memperlambat dinamika pasar yang biasanya fleksibel. Data Biro Sensus AS menunjukkan populasi kini mencapai 341,8 juta jiwa, namun penyesuaian kontrol populasi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan tahun lalu membuat data perbandingan bulanan menjadi sangat kompleks.
Bayang-Bayang Inflasi dan Suku Bunga
Di tengah pelemahan sektor ketenagakerjaan, The Federal Reserve kini dihadapkan pada dilema kebijakan. Para pengamat pasar meyakini bank sentral AS tersebut tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga dalam rapat kebijakan pada 17-18 Maret mendatang. Diprediksi, suku bunga acuan overnight akan tetap dipertahankan pada kisaran 3,50%-3,75%.
Keputusan ini didorong oleh kekhawatiran baru yakini konflik Timur Tengah. Eskalasi serangan udara antara AS-Israel dan Iran telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar global. Harga bensin eceran dilaporkan melonjak lebih dari 20 sen per galon sejak akhir pekan lalu.
Kekhawatiran yang berkembang di kalangan ekonom adalah dampak jangka panjang dari perang ini. Jika konflik berkepanjangan, volatilitas pasar saham diprediksi akan menekan kepercayaan konsumen, terutama pada rumah tangga berpendapatan tinggi yang selama ini menjadi mesin penggerak ekonomi melalui konsumsi mereka.
Meski angka pengangguran 4,4% masih tergolong rendah secara historis, para ekonom mulai memasang “tanda bahaya” jika angka tersebut nantinya menembus ambang batas 4,5%. Kini, ekonomi AS tengah berada dalam posisi menunggu menanti apakah pasar tenaga kerja akan pulih, atau justru terseret lebih dalam oleh arus geopolitik yang makin tak menentu.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














