Serangan Houthi di Hodeidah Tewaskan 16 Tentara Pemerintah Yaman

0
Yaman
Ilustrasi empat rudal.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HODEIDAHSuara tembakan dan ledakan kembali memecah keheningan di pesisir barat Yaman. Setelah beberapa tahun relatif meredup, pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi kembali menelan korban jiwa.

Sedikitnya 16 tentara pemerintah dilaporkan tewas dalam serangan yang terjadi di Kegubernuran Hodeidah, menandai salah satu bentrokan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Mengutip laporan Al Jazeera, Minggu (5/7/2026), bentrokan terjadi di wilayah Jabal Dabbas yang berada di sepanjang pantai barat Yaman. Serangan bermula ketika kelompok Houthi melancarkan serangan mendadak pada Jumat malam dan berhasil merebut sejumlah pos pertahanan milik pasukan pemerintah.

Pasukan yang mendukung pemerintah Yaman kemudian melancarkan serangan balasan pada Sabtu pagi untuk merebut kembali wilayah yang sempat dikuasai kelompok tersebut.

Berdasarkan laporan sumber medis, rumah sakit di kawasan pesisir Laut Merah menerima sedikitnya 16 jenazah tentara pemerintah serta merawat 22 prajurit yang mengalami luka-luka. Sebagian besar korban tewas berasal dari wilayah Tihama yang saat itu bertugas menjaga garis depan pertahanan.

Baca Juga :  Koalisi 7 Partai Bakal Bubar, Putusan MK Gagalkan Skenario Kotak Kosong Pilkada Kabupaten Bogor 2024

Seorang perwira militer dari pasukan pemerintah mengatakan operasi tersebut merupakan salah satu serangan paling mematikan yang pernah dilancarkan Houthi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kelompok itu lebih dahulu mengerahkan penembak jitu sebelum melancarkan serangan menggunakan pesawat tanpa awak (drone) dan mortir ke arah posisi pertahanan pemerintah.

“Ini adalah serangan Houthi paling mematikan dalam bertahun-tahun,” ungkap perwira dari pasukan pro-pemerintah tersebut secara anonim karena tidak memiliki otoritas resmi untuk berbicara kepada media.

Meski menghadapi serangan dari berbagai arah, pejabat militer Yaman menyatakan pasukan pemerintah akhirnya mampu memukul mundur kelompok Houthi setelah pertempuran yang berlangsung selama beberapa jam.

Baca Juga :  Badai Serangan Hantam Jantung Energi Arab Saudi, Produksi Minyak Global Berguncang

Pihak militer juga mengklaim kelompok Houthi mengalami kerugian besar dalam bentrokan tersebut. Namun, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai jumlah korban tewas maupun luka di pihak Houthi.

Sementara itu, Menteri Negara sekaligus anggota kabinet pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Walid al-Qudaimi, memberikan penghormatan kepada para prajurit yang gugur melalui unggahan di platform X.

“Para prajurit tewas saat mempertahankan tanah dan kehormatan mereka,” tulis Walid al-Qudaimi.

Konflik antara pemerintah Yaman dan kelompok Houthi telah berlangsung sejak 2015. Dalam perang berkepanjangan tersebut, Houthi berhasil menguasai ibu kota Sanaa serta sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk pelabuhan strategis Hodeidah.

Sementara itu, pemerintah Yaman memindahkan pusat administrasinya ke Kota Aden dan tetap mengendalikan sebagian besar wilayah selatan negara tersebut.

Baca Juga :  PDI-P Wacanakan Gandeng PKS Dan PPP di Pilgub Jabar, Bentuk Poros Baru Jika Parpol Lain Gabung KIM

Meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berhasil memediasi gencatan senjata pada 2022 yang sempat meredakan pertempuran di berbagai garis depan, bentrokan bersenjata masih terus terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah.

Eskalasi terbaru ini terjadi tidak lama setelah kelompok Houthi melontarkan ancaman untuk menyerang sejumlah bandara dan fasilitas strategis di Arab Saudi, negara yang selama ini menjadi pendukung utama pemerintah Yaman dalam konflik tersebut.

Serangan di Hodeidah menjadi pengingat bahwa situasi keamanan di Yaman masih sangat rapuh. Di tengah belum adanya penyelesaian politik yang permanen, bentrokan bersenjata masih berpotensi kembali meningkat dan memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com