NARASITODAY.COM, RIYADHÂ – Langit di atas semenanjung Arab kembali memerah, namun kali ini bukan karena mentari senja. Serangkaian serangan terkoordinasi terhadap fasilitas energi vital di Arab Saudi telah memukul titik nadi ekonomi kerajaan tersebut, memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi global di tengah tensi panas antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir laporan Reuters pada Jumat (10/4/2026), kantor berita pemerintah Saudi Press Agency (SPA) mengonfirmasi bahwa serangan ini telah melumpuhkan kapasitas produksi minyak nasional hingga 600.000 barel per hari (bph). Tak hanya itu, aliran emas hitam melalui pipa strategis East-West Pipeline juga menyusut sekitar 700.000 bph.
Lumpuhnya Jalur Urat Nadi
Sentuhan kerusakan paling nyata terlihat pada East-West Pipeline, pipa lintas kerajaan yang menghubungkan wilayah timur yang kaya minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
“Pipa ini mengalami penurunan kapasitas hingga 700.000 bph setelah salah satu stasiun pompa terdampak serangan,” tulis laporan resmi tersebut. Padahal, jalur ini merupakan alternatif utama di luar Selat Hormuz dengan kapasitas maksimal mencapai 7 juta bph.
Kilang-Kilang Raksasa Terhenti
Efek domino serangan ini merembet ke berbagai fasilitas pengolahan raksasa yang menjadi tulang punggung ekspor Saudi:
- Kilang Ras Tanura & Jubail (SATORP): Sebagai kilang tertua dan terbesar dengan kapasitas distilasi 550.000 bph, Ras Tanura mengalami gangguan operasional serius. Begitu pula dengan SATORP (hasil kerja sama Aramco-TotalEnergies) yang mengolah minyak jenis Arabian Heavy.
- Kilang Yanbu (SAMREF) & Riyadh: Fasilitas di pesisir Laut Merah dan ibu kota ini juga tidak luput dari gangguan, menghambat pasokan domestik serta ekspor produk olahan ke pasar internasional.
Produksi Hulu yang Terpangkas
Di sektor hulu, dua ladang minyak raksasa mengalami “pendarahan” produksi. Ladang lepas pantai Manifa dan ladang darat Khurais masing-masing melaporkan penurunan produksi sekitar 300.000 bph. Bagi Khurais, yang memiliki kapasitas 1,5 juta bph untuk minyak jenis Arabian Light, gangguan ini merupakan pukulan telak bagi pasokan minyak ringan dunia.
Api di Terminal Gas dan Krisis Listrik
Pemandangan mencekam dilaporkan terjadi di Terminal Gas Juâaymah, salah satu terminal ekspor LPG terbesar di dunia. Kebakaran hebat di fasilitas ini mengancam pengiriman LPG yang pada tahun 2025 rata-rata mencapai 450.000 ton per bulan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar global, tetapi juga warga lokal. Sektor kelistrikan di Riyadh, Provinsi Timur, hingga Yanbu mulai mengalami gangguan operasional akibat terhambatnya pasokan bahan bakar ke pembangkit listrik.
Risiko Global yang Nyata
Eskalasi ini menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya infrastruktur energi dunia terhadap konflik geopolitik. Saat ini, dunia menahan napas menunggu seberapa cepat Saudi Aramco mampu melakukan pemulihan (recovery), sembari mengamati pergerakan harga minyak mentah yang diprediksi akan melonjak akibat hilangnya ratusan ribu barel dari pasar harian.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














