NARASITODAY.COM, TOKYO – Di tengah bayang-bayang krisis energi yang menyelimuti pasar dunia, Jepang mengambil langkah defensif yang berani. Negeri Sakura ini secara resmi mengumumkan rencana untuk melepas tambahan cadangan minyak setara 20 hari konsumsi nasional yang akan dimulai pada Mei 2026 mendatang.
Kebijakan strategis ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam rapat kabinet pada Jumat (10/4/2026). Langkah ini menjadi bantalan bagi ekonomi Jepang yang kian tertekan akibat gangguan pasokan global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
Beban Berat Ketergantungan
Selama puluhan tahun, mesin-mesin industri dan kendaraan di Jepang sangat bergantung pada aliran minyak dari padang pasir Arab. Saat ini, tercatat sekitar 95% impor minyak Jepang masih berasal dari Timur Tengah. Namun, dengan situasi geopolitik yang kian rapuh, ketergantungan ini kini dianggap sebagai kerentanan besar.
Pelepasan stok tambahan ini melengkapi aksi yang sudah dimulai sejak 16 Maret lalu. Jika sebelumnya Jepang telah berencana melepas cadangan setara 50 hari konsumsi, tambahan 20 hari ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah melihat risiko di depan mata.
“Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik di tengah gangguan pasokan global,” ungkap perwakilan pemerintah dalam rapat kabinet tersebut.
Hingga 6 April, Jepang sebenarnya masih memiliki “tabungan” energi yang cukup aman, yakni cadangan untuk 230 hari, dengan 143 hari di antaranya berada dalam kontrol langsung stok publik pemerintah.
Mencari Jalan di Luar Hormuz
Ambisi Jepang tidak berhenti pada melepas cadangan. Pemerintah menargetkan bahwa pada Mei mendatang, lebih dari separuh impor minyak mereka sudah dialihkan melalui rute yang menghindari Selat Hormuz jalur sempit yang kini menjadi titik api konflik.
Sebagai alternatif, Tokyo mulai melirik Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah, Arab Saudi, serta Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Tak hanya soal rute, peta pencarian minyak Jepang kini meluas hingga ke penjuru bumi, mulai dari Amerika Serikat, Malaysia, hingga kawasan Asia Tengah seperti Azerbaijan dan Kazakhstan. Bahkan, negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Meksiko, serta Nigeria di Afrika, kini masuk dalam radar diversifikasi.
Prioritas untuk Sektor Rakyat
Sentuhan kebijakan ini juga menyentuh aspek-aspek harian masyarakat. Pemerintah telah meminta para pemasok untuk memastikan bahan bakar mengalir langsung ke urat nadi kehidupan publik.
Sektor kesehatan, transportasi, dan pertanian menjadi prioritas utama. Menariknya, perlindungan energi ini juga menyasar sektor-sektor khas Jepang, seperti para produsen teh hijau, peternakan, hingga industri perikanan, guna memastikan stabilitas harga pangan dan kebutuhan pokok di tingkat konsumen tetap terjaga.
Langkah masif ini mencerminkan filosofi ketahanan Jepang dan bersiap untuk skenario terburuk demi menjaga denyut kehidupan bangsa di tengah badai geopolitik yang tak menentu.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













