Microsoft Mengurangi 2,1% Tenaga Kerja di Tengah Investasi AI Besar-besaran

0
Microsoft
Ilustrasi perusahaan Microsoft. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Gelombang efisiensi kembali melanda industri teknologi global. Di tengah perlombaan mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Microsoft memangkas sekitar 4.800 karyawan atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerjanya sebagai bagian dari penyesuaian bisnis dan strategi investasi perusahaan.

Mengutip Reuters, keputusan tersebut diumumkan Microsoft pada Senin (6/7), di tengah meningkatnya investasi perusahaan-perusahaan teknologi besar dalam pembangunan infrastruktur AI. Pengeluaran untuk pengembangan teknologi AI secara global diperkirakan melampaui 700 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang tahun ini, sehingga mendorong perusahaan untuk menunjukkan hasil nyata dari investasi tersebut sekaligus menekan biaya operasional.

Microsoft menjadi salah satu perusahaan teknologi yang melakukan pengurangan tenaga kerja pada tahun ini. Sebelumnya, Amazon dan Meta Platforms juga telah memangkas ribuan posisi sebagai bagian dari strategi efisiensi bisnis.

Pengumuman pemutusan hubungan kerja dilakukan setelah Microsoft melalui periode yang cukup berat di pasar modal. Sepanjang enam bulan pertama 2026, harga saham perusahaan turun hampir 23 persen, menjadi kinerja semester pertama terburuk sejak 2022.

Baca Juga :  Revitalisasi 71.744 Sekolah Ditargetkan Tuntas Tahun Ini, Serap Hingga 1,1 Juta Tenaga Kerja

Sebelumnya, Microsoft juga telah menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 7 persen tenaga kerjanya di Amerika Serikat atau sekitar 9.000 karyawan.

Langkah efisiensi tersebut dilakukan menjelang berakhirnya tahun fiskal perusahaan pada Juni, periode yang selama ini kerap dimanfaatkan Microsoft untuk menyusun kembali rencana belanja dan investasi tahun berikutnya.

Di sisi lain, permintaan terhadap layanan AI terus mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure. Sebagai penyedia eksklusif model OpenAI hingga April lalu, Azure mencatat pertumbuhan yang kuat dan penjualan kuartalan yang melampaui proyeksi analis Wall Street.

Namun, ekspansi tersebut juga diiringi lonjakan biaya pembangunan pusat data untuk menopang layanan AI. Microsoft bahkan memproyeksikan belanja modal mencapai 190 miliar dolar AS pada 2026, jauh di atas perkiraan pasar.

Baca Juga :  Mengapa Raksasa Teknologi Seperti Microsoft dan Google Beralih ke Energi Nuklir?

Selain itu, berkembangnya teknologi AI yang mampu mengotomatisasi berbagai pekerjaan rutin juga mulai memberikan tekanan terhadap bisnis perangkat lunak perusahaan. Di saat yang sama, kenaikan harga chip memori akibat tingginya permintaan pusat data mendorong Microsoft menaikkan harga konsol Xbox, meski permintaan terhadap perangkat tersebut sedang melambat.

Kondisi itu turut menjadi perhatian pimpinan baru divisi gim Microsoft, Asha Sharma. Ia mengungkapkan bisnis Xbox memerlukan penyesuaian strategi karena tingkat keuntungan terus mengalami penurunan.

Menurut Sharma, margin keuntungan divisi gim kini hanya sekitar 3 persen sehingga perusahaan harus melakukan restrukturisasi, termasuk membuka peluang akuisisi maupun merger.

“Tidak termasuk Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir, kami telah menghabiskan lebih dari US$20 miliar untuk investasi berkelanjutan dalam konten, platform, dan subsidi perangkat keras kami, tetapi pendapatan tahunan kami telah menurun hampir setengah miliar selama periode tersebut,” katanya dalam memo kepada karyawan yang dipublikasikan di situs resmi Microsoft.

Baca Juga :  Sering Stres Kerja? Ketahui 5 Tantangan yang Sering Dihadapi Anak Muda

Ia menegaskan kondisi tersebut tidak dapat terus dipertahankan.

“Ke depannya, ini tidak dapat berlanjut.” tambahnya.

Sejumlah laporan juga menyebut Microsoft tengah mengevaluasi masa depan bisnis Xbox. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melakukan restrukturisasi besar atau memisahkan unit gim tersebut menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki, sebagaimana dilaporkan The Information pada bulan lalu.

Langkah Microsoft mencerminkan tantangan yang kini dihadapi industri teknologi global. Di satu sisi, perusahaan berlomba menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat pengembangan AI, namun di sisi lain mereka juga dituntut menjaga efisiensi agar tetap mampu menghasilkan keuntungan di tengah meningkatnya biaya operasional.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id