NARASITODAY.COM, BRUSSEL – Implementasi sistem pemeriksaan perbatasan digital baru milik Uni Eropa (UE) justru memicu kekacauan massal di sejumlah bandara utama tepat sebelum puncak musim liburan musim panas dimulai.
Maskapai penerbangan beserta operator bandara ramai-ramai melayangkan peringatan keras bahwa sistem tersebut telah menyebabkan gangguan serius terhadap arus perjalanan penumpang di seluruh kawasan.
Akibat tersendatnya sistem baru ini, para pelancong terpaksa gigit jari menghadapi antrean mengular hingga lima jam di pos pemeriksaan imigrasi. Bahkan, situasi di lapangan dilaporkan sangat pelik hingga beberapa pesawat terpaksa lepas landas dengan kursi yang masih kosong karena banyak calon penumpang terjebak dan gagal menyelesaikan proses pemeriksaan tepat waktu.
Industri Penerbangan Capai “Titik Kritis”
Gerah dengan situasi yang kian tak terkendali, tiga raksasa industri penerbangan global Airports Council International Europe, Airlines for Europe, dan International Air Transport Association (IATA) mengirimkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Mereka menyatakan bahwa penerapan Entry/Exit System (EES) kini telah mencapai “titik kritis”.
“Implementasi EES saat ini menciptakan konsekuensi operasional yang parah, mengganggu penumpang dan memberikan tekanan yang tidak berkelanjutan pada otoritas perbatasan, bandara, dan maskapai penerbangan,” tulis ketiga organisasi tersebut, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (2/6/2026).
Kelompok industri tersebut mendesak Komisi Eropa untuk segera mengambil tindakan darurat sebelum badai pergerakan penumpang semakin memburuk. Pasalnya, bandara-bandara di Eropa diperkirakan akan melayani ledakan sekitar 40 juta penumpang tambahan sepanjang bulan Juli dan Agustus jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya.
“Tanpa fleksibilitas tambahan, tantangan yang ada pasti akan semakin intensif,” tulis mereka seraya memperingatkan bahwa para penumpanglah yang nantinya akan menjadi pihak paling dirugikan dari mandeknya birokrasi digital ini.
Citra Pariwisata Eropa dan Ancaman Kerugian Rp812 Triliun
Di luar urusan antrean yang melelahkan fisik, gangguan sistemik ini mulai mencoreng reputasi Uni Eropa sebagai magnet wisata dunia. Sejumlah pelancong internasional dikabarkan mulai meninjau ulang, bahkan membatalkan rencana perjalanan mereka ke Benua Biru karena ngeri membayangkan drama penundaan panjang di pintu perbatasan.
Sebagai solusi jangka pendek, kelompok industri mendesak agar negara-negara anggota Uni Eropa diberikan diskresi khusus untuk menangguhkan sementara penerapan EES apabila volume penumpang sudah melampaui kapasitas operasional imigrasi. Penangguhan ini dirasa perlu hingga sistem digital tersebut benar-benar stabil dan pasokan personel petugas di lapangan memadai.
Langkah penyelamatan ini turut mendapat sokongan penuh dari World Travel and Tourism Council (WTTC). Presiden sekaligus CEO WTTC, Gloria Guevara, memperingatkan adanya efek domino yang mengerikan bagi perekonomian hilir pariwisata.
Gangguan yang berlarut-larut berpotensi mengancam hingga 41 juta kunjungan wisatawan, serta melenyapkan potensi belanja turis sebesar US).
“Jika penundaan yang lama menjadi praktik yang diterima, wisatawan akan mencari tempat lain. Eropa tidak mampu mengorbankan daya saingnya atau pengalaman yang ditawarkannya kepada jutaan pengunjung,” ujar Guevara menegaskan dampaknya terhadap ekonomi kawasan.
Gagal Totalnya Substitusi Cap Paspor Manual
Secara historis, Uni Eropa meluncurkan EES pada Oktober tahun lalu dengan ambisi menggantikan sistem cap paspor manual yang dianggap kuno. Di atas kertas, sistem canggih ini dirancang untuk merekam identitas pelancong, nomor paspor, sidik jari, pemindaian wajah, hingga detail waktu serta lokasi masuk-keluar dari zona Schengen.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Meski Komisi Eropa sebelumnya sempat mengeklaim bahwa sistem digital tersebut telah beroperasi penuh secara sempurna sejak April lalu, EES tak henti-hentinya dihujani kritik tajam.
Alih-alih mempercepat proses, birokrasi baru ini justru menjadi momok yang memicu antrean raksasa dan meninggalkan ratusan penumpang yang ditinggal terbang oleh pesawat mereka sendiri.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













