NARASITODAY.COM, ISLAMABAD – Gelombang panas konflik di Timur Tengah mulai membakar kantong rakyat Pakistan. Pemerintah Pakistan secara resmi mengumumkan kenaikan harga eceran solar dan bensin sebesar 20%, sebuah langkah darurat yang dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah global akibat perang yang melibatkan Iran.
Dalam pengumuman melalui pesan video yang disiarkan televisi, Menteri Perminyakan Ali Pervaiz Malik mengungkapkan kenaikan harga yang sangat signifikan secara historis, yakni sebesar 55 rupee (setara US$ 0,20) per liter. Dengan penyesuaian ini, harga solar melonjak menjadi 321,17 rupee dan bensin menjadi 335,86 rupee.
“Kami telah mengambil keputusan ini karena terpaksa akibat lonjakan tajam harga minyak bumi secara global,” ujar Malik dalam siaran tersebut, sebagaimana dikutip dari Reuters, Sabtu (7/3/2026).
Kepanikan di Lini Depan SPBU
Sebelum palu keputusan dijatuhkan, suasana di kota-kota besar seperti Lahore dan Karachi berubah mencekam. Ribuan kendaraan merayap membentuk antrean panjang yang mengular di berbagai SPBU. Warga bergegas mengisi tangki mereka sebelum harga baru yang mencekik diberlakukan.
Di tengah debu dan deru mesin di sebuah SPBU di Lahore, Imran Hussain, seorang pemilik bisnis lokal, tampak letih menunggu giliran. Kekhawatirannya bukan sekadar harga, melainkan kelangkaan stok yang mungkin menyusul.
“Saya telah menunggu giliran saya selama 70 menit terakhir,” katanya, menggambarkan situasi frustrasi para pengendara.
Kekhawatiran warga ini bukan tanpa alasan, meski Perdana Menteri Shehbaz Sharif pada hari Jumat telah mengeluarkan peringatan keras bagi para penimbun bahan bakar. Pemerintah menegaskan bahwa sanksi berat menanti bagi siapa pun yang mencoba mengambil keuntungan di tengah kesempitan.
Ketergantungan pada Selat Hormuz
Kenaikan ini diprediksi akan menjadi hantaman telak bagi penduduk miskin Pakistan, mengingat inflasi akan merambat ke sektor transportasi dan bahan pangan. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, posisi Pakistan sangat rentan karena jalur pasokannya harus melewati Selat Hormuz yang kini berada di zona konflik.
Menteri Perminyakan menekankan bahwa pemerintah saat ini harus sangat berhati-hati dalam mengelola stok nasional.
“Kita memiliki cadangan bensin yang cukup. Tetapi kita berencana untuk menggunakannya secara maksimal karena kita tidak tahu kapan krisis Timur Tengah akan berakhir,” tegas sang Menteri.
Sebagai langkah antisipatif terhadap pasar global yang sangat volatil, pemerintah Pakistan menyatakan akan mengevaluasi kembali harga bahan bakar setiap minggu. Di tengah ketidakpastian geopolitik ini, rakyat Pakistan kini hanya bisa bersiap menghadapi hari-hari dengan biaya hidup yang makin melambung tinggi.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














