
NARASIITODAY.COM, CIBINONG – Sore yang basah di Kelurahan Pabuaran Mekar, Kecamatan Cibinong, berubah menjadi kepanikan singkat bagi puluhan warga. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut pada Rabu kemarin mengakibatkan sebuah tanggul kali tak kuasa menahan beban air, hingga akhirnya jebol dan menumpahkan isinya ke permukiman.
Suara gemuruh air yang meluap menjadi pertanda buruk bagi warga yang tinggal di bantaran kali. Hanya dalam waktu singkat, air yang berwarna cokelat pekat mulai merayap masuk ke celah-celah pintu rumah, memaksa penghuninya bergegas menyelamatkan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
“Hujan deras dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya kali karena tidak dapat menampung debit air,” jelas staf Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, Jalaluddin, dalam laporannya pada Kamis (12/3/2026).
20 Rumah Terendam Genangan
Kekuatan air yang menerjang membuat sistem drainase warga kewalahan. Jalaluddin memaparkan bahwa luapan tersebut berdampak langsung pada setidaknya 20 rumah warga yang sempat terendam dengan ketinggian air yang bervariasi.
“Sehingga berdampak pada beberapa rumah dengan ketinggian bervariasi mulai 20 cm sampai dengan 50 cm,” bebernya merinci dampak banjir tersebut.
Meski harus disibukkan dengan kegiatan menguras air dan membersihkan sisa lumpur, warga Pabuaran Mekar bisa sedikit bernapas lega. Tidak ada struktur bangunan yang dilaporkan roboh meski tanggul utama mengalami kerusakan.
Nihil Korban Jiwa
Tim kaji cepat BPBD yang diterjunkan ke lokasi memastikan bahwa insiden ini tidak memakan korban, baik jiwa maupun luka-luka. Fokus utama saat ini adalah memastikan air surut sepenuhnya dan memantau kondisi tanggul yang rusak agar tidak memicu banjir susulan jika hujan kembali turun.
“Korban terdampak berdasarkan perkiraan hasil kaji cepat, yaitu 20 rumah terdampak. Banjir genangan tidak ada kerusakan pada bangunan rumah akibat banjir,” imbuh Jalaluddin menutup penjelasannya.
Kejadian ini kembali menjadi pengingat bagi warga Cibinong untuk tetap waspada, mengingat cuaca ekstrem yang kerap datang tiba-tiba dan menguji ketahanan infrastruktur lingkungan di musim penghujan.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com












