China Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial di Selat Hormuz

0
China
Ilustrasi Bendera Tiongkok di Tiongkok. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIJINGĀ  – Peta diplomasi di Timur Tengah menunjukkan pergeseran yang mengejutkan. China, yang selama ini dikenal sebagai sekutu ekonomi terdekat Teheran, secara resmi melontarkan kritik tajam terhadap serangan-serangan yang menyasar kapal komersial di Selat Hormuz. Jalur vital yang mengalirkan seperempat minyak mentah dunia tersebut kini menjadi titik api baru di bawah kendali pasukan Iran.

Langkah Beijing ini menandai titik balik penting, terutama sejak Iran dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei. Di tengah ancaman blokade total selat tersebut, China tampaknya mulai memprioritaskan kepentingan ekonominya di atas solidaritas diplomatik tradisional.

Dalam konferensi pers reguler di Beijing, Jumat (13/03/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memberikan pernyataan yang secara eksplisit membela stabilitas negara-negara Teluk secara kolektif.

China tidak setuju dengan serangan terhadap negara-negara Teluk dan mengutuk semua serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan target non-militer,” tegas Guo dikutip dari Newsweek.

Baca Juga :  Lebaran Semakin Dekat, THR Belum Terlihat? Ini 5 Cara Cerdas Mengatur Keuangan Agar Tak Membebani Kantong

Meskipun tidak menyebut nama Iran secara langsung, pernyataan ini ditafsirkan oleh para ahli sebagai teguran keras bagi Teheran. Beijing yang biasanya condong membela Iran saat diserang Amerika Serikat atau Israel, kini berbalik mendesak penghentian eskalasi militer demi menyelamatkan jalur logistik global.

“Solusi mendasarnya adalah bersama-sama kembali ke jalur yang benar dalam mematuhi hukum internasional dan norma-norma dasar hubungan internasional,” tambah Guo.

Bara di Selat Hormuz dan Reaksi Trump

Ketegangan ini dipicu oleh setidaknya 18 serangan terhadap kapal sipil di kawasan Teluk, di mana kapal tanker dan kapal “bunuh diri” bermuatan bom dilaporkan mulai mengancam pelayaran internasional. Namun, Presiden AS Donald Trump justru menanggapi situasi ini dengan gaya khasnya yang meremehkan.

Baca Juga :  Terimbas Gejolak Timur Tengah, Cathay Pacific Pangkas Jadwal Penerbangan hingga Juni 2026

Dalam pernyataannya Rabu lalu, Trump menyebut militer Iran tidak cukup tangguh untuk benar-benar menutup nadi perdagangan dunia.

“Selat tersebut dalam kondisi yang luar biasa dan Iran memang memiliki beberapa rudal, tetapi tidak terlalu banyak,” ujar Trump kepada wartawan.

Pernyataan Trump ini berbanding terbalik dengan ancaman dari Korps Garda Revolusi Iran yang bersumpah akan melumpuhkan total ekonomi lawan. “Kami tidak akan membiarkan satu liter minyak pun melewati selat yang akan menguntungkan AS, Israel, atau sekutu mereka,” tegas pihak Garda Revolusi.

Evan Feigenbaum, mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, menilai China sedang melakukan manuver “diversifikasi keranjang”. Menurutnya, Beijing tidak akan mempertaruhkan seluruh asetnya hanya untuk membela Iran jika itu merusak hubungan dengan negara-negara Arab lainnya.

Baca Juga :  Pakistan Perketat Pemeriksaan Kesehatan di Pintu Masuk Terkait Virus Nipah Setelah Kasus di India

Beijing memiliki portofolio mitra dan kepentingan yang terdiversifikasi, tidak pernah menaruh semua telurnya dalam keranjang Iran,” tulis Feigenbaum melalui platform X.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melancarkan serangan balik di media sosial. Ia menuduh kegagalan diplomasi Amerika disebabkan oleh ketidakpahaman mereka terhadap detail teknis dan ekonomi. Araghchi berargumen bahwa kenaikan harga minyak hanya akan menguntungkan korporasi besar namun menghancurkan ekonomi rumah tangga di AS.

Hingga hari ini, Selat Hormuz yang biasanya sibuk kini mulai nampak lengang. Risiko serangan dan lonjakan premi asuransi memaksa kapal-kapal komersial berpikir dua kali untuk melintas, sementara rencana pengerahan armada pengawal oleh AS dan Prancis mulai mematangkan langkah di atas meja perundingan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com