NARASITODAY.COM,TAIPEI – Setiap warga, Lim Siong-hua memulai harinya dengan ritual yang tidak biasa bagi seorang terapis okupasi. Di punggungnya melingkar ransel berat berisi buku, persediaan air, dan perangkat bertahan hidup. Alih-alih menggunakan lift, perempuan berusia 37 tahun ini memilih menapaki tangga hingga lantai 11 sebelum turun kembali ke kantornya di lantai sembilan.
Ini bukan sekadar olahraga pagi. Bagi Lim, setiap anak tangga yang ia daki adalah simulasi kekuatan untuk hari yang paling ia takuti yakini hari di mana invasi China benar-benar menyentuh daratan Taiwan.
“Prioritas terbesar saya adalah bisa membawa anak-anak saya dan berlari,” ungkap Lim sebagaimana dilansir dari Wall Street Journal.
Ketahanan di Balik Status Quo
Lim adalah bagian dari gelombang baru masyarakat sipil Taiwan yang mulai meninggalkan zona nyaman. Di bawah kepemimpinan Presiden Lai Ching-te, kelangsungan hidup pulau ini kini tidak lagi hanya diletakkan di pundak militer, melainkan pada ketangguhan mental dan fisik rakyatnya.
Namun, menanamkan kewaspadaan di tengah kualitas hidup yang tinggi menjadi tantangan tersendiri. Peneliti Amanda Hsiao dan Bonnie Glaser mencatat bahwa stabilitas ekonomi sering kali membuat publik lengah. Secara politik pun, anggaran pertahanan senilai US$40 miliar masih tertahan di parlemen akibat perdebatan mengenai risiko provokasi militer terhadap Beijing.
Belajar dari Ukraina, Bersiap untuk 2027
Tekanan militer Beijing yang kian intensif dan kegigihan Ukraina melawan Rusia telah menjadi katalisator bagi warga Taiwan. Kini, gaya hidup survivalism mulai menjamur mulai dari menyiapkan “tas siaga bencana”, menimbun bahan pokok, hingga menguasai radio amatir sebagai antisipasi jika jaringan internet bawah laut diputus.
Kelompok-kelompok pelatihan seperti Kuma Academy muncul untuk menanamkan “mentalitas pra-perang”. Di Tainan, komunitas yang dipimpin oleh Hsieh Chang-ying bahkan bekerja dengan asumsi yang lebih ekstrem.
“Kami berasumsi perang pasti akan terjadi pada 2027,” tegas Hsieh.
Tim Hsieh kini fokus mengembangkan sistem komunikasi nirkabel berbasis Meshtastic yang tetap berfungsi tanpa internet, serta merancang paket panduan mandiri bagi tempat perlindungan darurat agar warga tidak hanya bergantung pada birokrasi pemerintah yang berpotensi kewalahan.
Di Taipei, semangat ini diterjemahkan ke dalam pelatihan praktis. Salah satu program populer, “The Home Fortress”, yang dipimpin oleh aktivis Lee Tse-chung, selalu dipenuhi peserta berusia 30 hingga 45 tahun hanya dalam hitungan jam setelah pendaftaran dibuka.
Dalam ruang pelatihan, simulasi berlangsung mencekam. Puluhan peserta harus meringkuk di bawah meja saat sirene serangan udara fiktif meraung. Mereka dipaksa mengambil keputusan sulit: bertahan di dalam rumah tanpa listrik dan air, atau mempertaruhkan nyawa keluar mencari suplai logistik.
Tak jarang, simulasi berakhir dengan “kematian” peserta akibat kelaparan atau serangan udara. Sebuah gambaran pahit yang sengaja diciptakan untuk menyadarkan bahwa dalam perang, kesiapan adalah satu-satunya garis pembatas antara hidup dan mati.
Bagi warga seperti Lim Siong-hua dan ribuan lainnya, pembangunan ketahanan ini bukan bentuk provokasi, melainkan pesan sunyi kepada dunia bahwa mereka tidak akan menyerah tanpa perlawanan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














