NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Ruang Oval Gedung Putih yang biasanya formal mendadak diselimuti suasana kaku pada Kamis waktu setempat. Di tengah upaya Amerika Serikat menggalang dukungan sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz, Presiden Donald Trump justru melontarkan komentar kontroversial yang mengungkit luka sejarah Perang Dunia II di depan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Insiden ini bermula saat jurnalis Jepang mempertanyakan alasan AS tidak memberikan notifikasi terlebih dahulu kepada negara-negara sekutu sebelum melancarkan serangan udara ke Iran baru-baru ini.
Diplomasi Efek Kejut
Awalnya, Trump menjawab pertanyaan tersebut dengan penjelasan taktis. Ia menegaskan bahwa kerahasiaan adalah kunci utama untuk menjaga “efek kejut” agar operasi militer berjalan maksimal. Namun, suasana berubah drastis ketika Trump menambahkan pernyataan yang tidak terduga.
“Siapa yang lebih paham soal serangan mendadak selain Jepang… Kenapa dulu kalian tidak memberi tahu saya soal Pearl Harbor?” ujar Trump, sebagaimana dikutip dari CNBC.com, Jumat (20/3/2026).
Kalimat tersebut merujuk pada tragedi tahun 1941, saat Jepang meluncurkan serangan mendadak ke pangkalan militer AS di Hawaii. Mendengar pernyataan itu, PM Takaichi dilaporkan terdiam dengan ekspresi wajah yang tampak tidak nyaman, menciptakan momen diplomasi yang canggung di depan para awak media.
Klaim Keberhasilan Militer
Meski dihujani kritik mengenai koordinasi dengan sekutu, Trump tetap berdiri teguh pada keputusannya. Ia mengklaim bahwa strategi serangan tanpa pemberitahuan tersebut membuahkan hasil signifikan di lapangan.
Menurut perhitungan Gedung Putih, sekitar 50% target militer di Iran berhasil dilumpuhkan hanya dalam kurun waktu dua hari pertama operasi. Bagi Trump, efektivitas serangan ini jauh lebih penting daripada prosedur birokrasi antarnegara sekutu.
Sekutu yang Menjauh
Di tengah ketegangan ini, AS terus mendorong Jepang dan negara-negara Eropa untuk mengirimkan bantuan militer guna mengamankan jalur perdagangan di Selat Hormuz. Namun, ajakan tersebut disambut dengan sikap dingin.
- Jepang: Menyatakan belum memiliki rencana mengirim kapal militer dan akan tetap bertindak sesuai kerangka hukum yang berlaku.
- Prancis & Jerman: Presiden Emmanuel Macron dan pejabat Berlin menegaskan bahwa konflik ini bukanlah bagian dari keterlibatan mereka.
Sikap skeptis dari para sekutu ini menunjukkan adanya keretakan dalam koordinasi global, terutama ketika retorika pemimpin AS justru membangkitkan sentimen sejarah yang sensitif di saat kerja sama sangat dibutuhkan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














