Rudal Jarak Jauh Iran Sasar Diego Garcia, Jangkauan Ancaman Kini Tembus Jantung Eropa

0
Diego Garcia
Iran telah memasukkan Khorramshahr-4 ke dalam jajaran arsenalnya di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan sekutu. Foto: AP

NARASITODAY.COM, SAMUDRA HINDIAPangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, sebuah atol terpencil di tengah Samudra Hindia, kini menjadi titik baru dalam eskalasi konflik global yang kian memanas. Untuk pertama kalinya sejak konfrontasi pecah pada 28 Februari lalu, Teheran dilaporkan meluncurkan rudal balistik jarak jauh yang mampu menjangkau target sejauh 4.000 kilometer.

Serangan ini menandai babak baru dalam peta peperangan, di mana proyektil Iran kini tidak lagi hanya membayangi wilayah Timur Tengah, tetapi juga mulai mengancam stabilitas benua biru.

Bayang-Bayang Ancaman di Langit Eropa

Kepala militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengungkapkan kekhawatirannya atas kemampuan teknis rudal tersebut. Menurutnya, penggunaan senjata jarak jauh ini adalah pesan serius bagi sekutu Barat.

Rudal-rudal ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa—Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung,” tegas Zamir dalam pernyataan resminya, Minggu (22/3/2026).

Baca Juga :  Bumi Iran Berduka, Ratusan Tewas dalam Badai Rudal

Ironisnya, serangan ke Diego Garcia ini terjadi sesaat sebelum pemerintah Inggris memberikan lampu hijau bagi AS untuk menggunakan pangkalan tersebut sebagai titik luncur serangan balasan ke situs rudal Iran.

Dilema Trump: Antara Ultimatum dan Rencana Penarikan

Di tengah dentuman rudal, sinyal yang membingungkan justru datang dari Gedung Putih. Presiden Donald Trump memberikan isyarat melalui media sosial bahwa ia ingin mulai mengurangi intensitas operasi militer besar-besaran di kawasan tersebut.

“Kami makin mendekati pencapaian tujuan kami saat kami mempertimbangkan untuk mengakhiri secara bertahap upaya militer besar kami di Timur Tengah terkait rezim teroris Iran,” tulis Trump via Truth Social.

Trump juga bersikeras bahwa pengamanan Selat Hormuz jalur nadi energi dunia seharusnya menjadi beban kolektif. “Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika diperlukan, oleh negara-negara lain yang menggunakannya, bukan Amerika Serikat!” tambahnya.

Baca Juga :  Israel Masuk Daftar Hitam PBB, Sikap Geram dan Putus Hubungan dengan Sekjen Guterres

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. AS tetap mengirimkan unit Marinir dan kapal pendarat berat ke kawasan, sebuah kontradiksi yang membuat sekutu NATO mulai meragukan arah kebijakan luar negeri Washington.

Guncangan di Kota Gurun dan Fasilitas Nuklir

Sementara itu, di daratan Israel, ketegangan fisik mencapai puncaknya pada Sabtu malam. Rudal Iran menghantam kota Dimona yang terletak di Gurun Negev, wilayah sensitif yang menampung reaktor nuklir rahasia Israel. Serangan ini menyebabkan seorang anak luka parah dan puluhan warga lainnya dilarikan ke rumah sakit.

Di sisi lain, Iran melaporkan adanya serangan udara dari pihak sekutu ke kompleks pengayaan nuklir Natanz. Meski IAEA menyatakan tidak ada kebocoran radioaktif, atmosfer di perbatasan kian mencekam. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memastikan bahwa pihaknya tidak akan mengendurkan tekanan.

Baca Juga :  Dari Auditor Hingga Kepala UPT, 25 Pejabat Baru Kabupaten Bogor Siap Mengabdi

“Kami bertekad untuk terus memimpin serangan terhadap rezim teroris Iran, memenggal komandan-komandannya dan menggagalkan kemampuan strategisnya sampai setiap ancaman… dihilangkan,” ujar Katz dengan nada menantang.

Harga yang Harus Dibayar

Di balik drama militer ini, krisis kemanusiaan dan ekonomi kian nyata. Sejak Februari, lebih dari 2.000 nyawa telah melayang di Iran. Di tingkat global, lonjakan harga energi akibat lumpuhnya Selat Hormuz mulai membebani dompet konsumen, menjadi risiko politik besar bagi Trump menjelang pemilu November mendatang.

Suara sirene yang melengking di Tel Aviv dan ledakan di langit Teheran seolah menjadi latar suara bagi dunia yang kini menahan napas, menunggu apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah hujan rudal balistik.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com