Prancis Desak Israel Tahan Diri Ambil Alih Wilayah di Lebanon Selatan

0
Prancis
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot.Foto : atlanticcouncil.org

NARASITODAY.COM,PARIS – Di tengah gemuruh mesin perang yang kian mendekat ke perbatasan, Prancis meluncurkan upaya diplomatik terakhir untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar di Lebanon Selatan.

Pemerintah Prancis secara terbuka mendesak Israel untuk membatalkan rencana pengambilalihan wilayah tersebut, memperingatkan bahwa langkah militer darat hanya akan menjadi tiket menuju bencana kemanusiaan yang tak terkendali.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, memberikan peringatan tajam kepada otoritas Israel. Ia menegaskan bahwa eskalasi di darat akan menghancurkan stabilitas Lebanon yang saat ini sudah berada di titik nadir.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Puji RSUD Cibinong Luncurkan Klinik AkuQuit, Terobosan Holistik Bantu Berhenti Merokok

“Kami mendesak pihak berwenang Israel untuk menahan diri dari operasi darat semacam itu, yang akan memiliki konsekuensi kemanusiaan yang besar dan akan memperburuk situasi negara yang sudah mengerikan,” tegas Barrot, sebagaimana dilansir dari AFP, Rabu (25/3/2026).

Peluang di Tengah Puing-Puing

Barrot menggambarkan situasi ini bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan persimpangan jalan sejarah. Paris melihat adanya celah sempit untuk perdamaian yang harus segera dimasuki sebelum tertutup oleh debu peperangan.

Barrot menyoroti sikap kooperatif dari Beirut. Dalam kunjungannya pada 19 Maret lalu, Presiden Lebanon Joseph Aoun telah menyuarakan keinginan untuk gencatan senjata dan membuka pintu negosiasi demi mengakhiri siklus kekerasan antara Israel dan milisi Hizbullah.

Baca Juga :  Meski Dibatalkan, Kehlani Tetap Lantang Suarakan Isu Kemanusiaan Lewat Musik

“Ini adalah momen yang harus dimanfaatkan, ini bersejarah, dan momen itu adalah sekarang,” ujar Barrot menyerukan dialog politik tingkat tinggi dengan pemerintah Lebanon.

Ambisi Sungai Litani dan Harga yang Harus Dibayar

Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah Israel menyatakan ambisinya untuk menguasai kendali atas wilayah Lebanon Selatan hingga mencapai Sungai Litani, sebuah zona strategis yang berjarak sekitar 30 kilometer dari garis perbatasan.

Baca Juga :  Ketegangan Meningkat, Korea Utara Tuntut Penghentian Serangan Militer Israel ke Iran

Konflik yang menyeret Lebanon ke dalam pusaran perang Timur Tengah ini bermula pada awal Maret, ketika milisi Hizbullah meluncurkan serangan roket sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak genderang perang ditabuh, serangan udara Israel telah menyapu berbagai wilayah Lebanon dan merenggut sedikitnya 1.072 nyawa.

Kini, dengan pasukan darat di bawah komando Benjamin Netanyahu yang sudah mulai bergerak ke wilayah selatan, dunia menanti apakah seruan Paris akan didengar atau justru tenggelam dalam deru ledakan di sepanjang perbatasan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com