Israel dan Hamas Mulai Perundingan Perdamaian di Mesir Bahas Rencana Trump

0
Israel dan Hamas
Asap membumbung di langit Gaza setelah serangan udara Israel, terlihat dari Nuseirat, Jalur Gaza tengah. Serangan ini terjadi di tengah perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas yang tengah berlangsung di Mesir. Foto : jernih.co

NARASITODAY.COM, SHARM EL-SHEIKH — Delegasi dari Israel dan Hamas memulai perundingan tidak langsung di kota resor Sharm El-Sheikh pada Senin (6/10/2025), membahas inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Gaza.

Pertemuan ini bertujuan menjembatani perbedaan pandangan terkait isu-isu krusial seperti penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas. Kedua pihak telah menyatakan dukungan terhadap prinsip-prinsip utama dalam rencana Trump, yang mencakup penghentian pertempuran, pembebasan sandera, serta akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.

Rencana tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah negara Arab dan Barat. Pemerintah AS menyebutnya sebagai langkah paling mendekati perdamaian sejak konflik meletus dua tahun lalu.

Presiden Trump menyatakan keyakinannya terhadap hasil perundingan. “Saya sungguh yakin kita akan mencapai kesepakatan, dan itu akan menjadi perdamaian yang bertahan lama,” ujarnya di Gedung Putih.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah poin yang belum disepakati dan berpotensi menggagalkan kesepakatan, seperti yang terjadi dalam upaya sebelumnya. Trump telah meminta Israel untuk menghentikan serangan udara selama proses negosiasi berlangsung.

Baca Juga :  5 Sikapmu yang Tanpa Sadar Bisa Bikin Orang Lain Jengkel

Warga Gaza melaporkan intensitas serangan telah menurun, meski belum sepenuhnya berhenti. Data dari otoritas kesehatan Gaza mencatat 19 korban jiwa dalam 24 jam terakhir, sekitar sepertiga dari rata-rata harian dalam beberapa pekan terakhir.

Fokus Utama: Pembebasan Sandera

Perundingan yang difasilitasi oleh mediator dari Mesir, AS, dan Qatar ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari. Sumber Palestina menyebut sesi pertama telah rampung Senin malam dan akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Hamas menyampaikan sikapnya terkait pembebasan sandera, serta tahapan dan tenggat waktu penarikan pasukan Israel. Kelompok tersebut juga menuntut jaminan gencatan senjata permanen dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Namun, suara ledakan dan serangan udara masih terdengar di Gaza City, menandakan operasi militer belum sepenuhnya dihentikan.

Perundingan ini berlangsung menjelang peringatan dua tahun serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menculik 251 sandera hari paling mematikan bagi warga Yahudi sejak Holocaust. Sebagai balasan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan menyebabkan jutaan penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga :  5 Ciri-Ciri Mental Block yang Harus Diketahui dan Cara Mengatasinya

Penarikan Bertahap dan Tekanan Internal

Seorang pejabat keamanan Israel menyebut fokus awal perundingan adalah pembebasan sandera. Israel bersiap menarik pasukan ke zona penyangga strategis yang disebut “garis kuning”, sesuai rencana Trump. Penarikan lebih lanjut akan bergantung pada pemenuhan syarat keamanan oleh Hamas.

Warga Gaza menyebut gencatan senjata sebagai satu-satunya harapan untuk bertahan hidup. “Jika ada kesepakatan, kami bisa selamat. Jika tidak, itu sama saja seperti dijatuhi hukuman mati,” kata Gharam Mohammad (20), pengungsi di Gaza tengah.

Di Israel, tekanan untuk mengakhiri perang semakin meningkat, terutama dari keluarga para sandera. Namun, faksi sayap kanan dalam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak penghentian pertempuran.

Baca Juga :  Konflik Yaman Memanas, Serangan AS di Ras Issa Perburuk Situasi Kemanusiaan

Delegasi dan Tantangan Utama

Delegasi Israel terdiri dari pejabat intelijen Mossad dan Shin Bet, serta Koordinator Sandera Gal Hirsch. Menteri Urusan Strategis Ron Dermer dijadwalkan bergabung akhir pekan ini.

Delegasi Hamas dipimpin oleh Khalil Al-Hayya, tokoh senior yang bermukim di Doha. Dari pihak AS, hadir utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner, menantu Trump.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa pihak-pihak terkait tengah “menyinkronkan daftar sandera Israel dan tahanan politik Palestina” yang akan dibebaskan.

Salah satu isu paling sensitif adalah tuntutan pelucutan senjata Hamas, sebagaimana tercantum dalam rencana Trump. Namun, sumber Hamas menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak akan menyerahkan senjata selama Israel masih menduduki wilayah Palestina dan belum terbentuk negara Palestina yang merdeka.

Dalam pernyataannya memperingati 7 Oktober, Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut rencana Trump “memberi peluang yang harus dimanfaatkan untuk mengakhiri konflik tragis ini.” ***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber