Krisis Energi Global Mengancam, Negara ASEAN Ambil Langkah Darurat di Tengah Perang Timur Tengah

0
ASEAN
Ilustrasi Mengisi bahan bakar mobil secara manual di stasiun pengisian bahan bakar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Satu bulan sejak fajar peperangan pecah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dampaknya kini merambat hingga ke dapur dan tangki kendaraan warga di Asia Tenggara. Penutupan Selat Hormuz urat nadi yang mengalirkan 20% minyak dunia telah membuat harga minyak mentah mendidih di atas US$100 per barel, memaksa negara-negara ASEAN mengambil langkah-langkah ekstrem demi bertahan hidup.

Dari hiruk-pikuk Kuala Lumpur hingga antrean panjang di Yangon, wajah krisis energi mulai terlihat nyata. Pemerintah di kawasan ini kini harus memilih antara menjebol anggaran negara atau membebankan kenaikan harga langsung kepada rakyatnya.

Malaysia: Disiplin Fiskal di Tengah Gejolak

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengambil langkah taktis dengan memangkas kuota subsidi BBM guna menjaga napas keuangan negara. Beban subsidi yang semula hanya 700 juta ringgit melonjak drastis menjadi 3,2 miliar ringgit hanya dalam hitungan minggu.

Baca Juga :  Pengelolaan Sampah TPA Galuga Jadi Prioritas, Anggaran dan Kolaborasi Ditingkatkan Tahun Ini

“Insyaallah, saya akan menguraikan langkah-langkah strategis negara untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi krisis energi global yang timbul dari konflik di Asia Barat, dengan pendekatan yang tegas, terstruktur, dan fokus pada kepentingan rakyat serta ketahanan bangsa,” ujar Anwar dalam pidato khususnya, Kamis (26/3/2026).

Meskipun kuota bulanan Budi Madani RON95 dipangkas dari 300 liter menjadi 200 liter, Anwar tetap bersikeras menjaga harga eceran di level subsidi. “Keputusan untuk mempertahankan harga bensin RON95 sebesar 1,99 ringgit (Rp 8.431) per liter adalah langkah yang diperhitungkan dengan matang agar tidak membebani rakyat,” tegasnya.

Filipina: Proklamasi Darurat Energi

Situasi lebih mencekam terasa di Filipina. Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. resmi menetapkan status darurat energi nasional melalui Perintah Eksekutif Nomor 110 pada Selasa (24/3/2026). Sebagai negara importir bersih, Filipina berada di posisi paling rentan terhadap penutupan Selat Hormuz.

Baca Juga :  Prabowo Bawa Pesan Damai dan Keadilan Global, Perkuat Posisi Indonesia di BRICS

“Sebagai importir bersih produk minyak bumi, Filipina tetap sangat bergantung pada sumber pasokan bahan bakar eksternal dan karenanya rentan terhadap gangguan dalam produksi dan transportasi minyak global,” bunyi dokumen resmi tersebut.

Manila kini memperketat pengawasan untuk mencegah penimbunan dan mulai mempercepat transisi ke kendaraan listrik sebagai tameng jangka panjang.

Vietnam dan Myanmar: Hidup dalam Pembatasan

Di Vietnam, harga solar sempat melonjak dua kali lipat dalam satu hari sebelum akhirnya direvisi kembali oleh pemerintah. Kebijakan “bekerja dari rumah” (WFH) yang sempat populer saat pandemi kini dihidupkan kembali untuk menghemat bensin.

Sementara itu, di bawah pemerintahan militer Myanmar, membeli BBM kini tak semudah biasanya. Warga harus menunjukkan sertifikat kendaraan untuk dipindai melalui sistem barcode dan QR code. “Pelanggan akan diizinkan membeli bahan bakar satu atau dua kali seminggu tergantung ukuran mesin kendaraan mereka,” tulis Kementerian Energi Myanmar.

Baca Juga :  Pondok Pesantren Darussalam Koposari Gelar Upacara HUT RI ke-79: Meneguhkan Nasionalisme dan Peran Santri

Indonesia: Mencari Jalur Alternatif

Di tengah ketidakpastian ini, Indonesia berusaha tetap tenang namun waspada. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan perburuan sumber minyak baru di luar Timur Tengah untuk menggantikan 20% pasokan yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Bahlil menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah diversifikasi tanpa harus menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat.

“Namun kita harus menyadari bahwa kondisi geopolitik ini tidak ada satu orang pun yang dapat meramalkan. Kita berdoa agar bisa selesai perang ini dengan baik, cepat,” ungkap Bahlil.

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com