Terjepit di Antara Raksasa: Negara Arab Jadi Samsak Perang AS-Israel vs Iran

0
Iran
Ilustrasi tempat minyak terbakar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,WASHINGTON D.C.Hampir satu bulan sejak genderang perang ditabuh pada 28 Februari lalu, peta konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran mengungkapkan realitas yang ironis. Laporan terbaru dari Stimson Center, lembaga pemikir yang berbasis di Washington D.C., menunjukkan bahwa beban terberat dari peperangan ini justru dipikul oleh negara-negara Arab di Timur Tengah, bukan oleh para aktor utama yang memantik api konflik.

Data statistik menggambarkan ketimpangan yang mengejutkan. Sementara Israel hanya menjadi target sekitar 17 persen serangan, negara-negara Teluk (GCC) justru dihujani ribuan proyektil dalam upaya Iran membalas aset-aset militer AS yang bertabur di wilayah tersebut.

Hujan Rudal di Langit Teluk

Sejak hari pertama perang, negara-negara Arab telah menjadi sasaran 4.391 serangan drone dan rudal Iran. Angka ini mencakup 83 persen dari total serangan Teheran sejauh ini. Uni Emirat Arab (UEA) berada di garis depan penderitaan dengan total 2.156 serangan.

Baca Juga :  Dipha Barus dan Kunto Aji Bergabung dengan The Adams dalam Teater Musikal Rima Raga

Tragedi kemanusiaan mulai mewarnai statistik tersebut. Pada Kamis (26/3/2026), dua orang dilaporkan tewas di UEA setelah kendaraan mereka tertimpa puing rudal yang berhasil dicegat. Secara total, 11 nyawa telah melayang di UEA, sementara Arab Saudi mencatat dua korban jiwa dari 723 serangan yang mereka hadapi.

Bagi warga di Abu Dhabi atau Riyadh, ini adalah kali pertama sistem pertahanan udara mereka diuji secara brutal oleh konflik yang bukan milik mereka.

Motif di Balik Target Sipil

Kemarahan negara-negara Arab memuncak ketika pola serangan Iran mulai bergeser. Teheran tidak lagi hanya mengincar hanggar pesawat atau barak militer AS, melainkan infrastruktur sipil dan situs energi yang menjadi urat nadi kemakmuran kawasan.

Baca Juga :  Venezuela Klaim Gagalkan Rencana Serangan di Kedutaan AS, Ketegangan dengan Washington Meningkat

Chris Doyle, Direktur Council for Arab-British Understanding, menilai klaim Iran yang mengaku hanya menargetkan pasukan AS kini sulit diterima akal sehat.

“Meski mengklaim hanya menargetkan lokasi yang terkait dengan pasukan AS, sangat jelas bahwa Iran telah menyerang bagian penting dari infrastruktur sipil. Jadi klaim seperti itu tidak dapat dipercaya,” papar Doyle kepada Arab News.

Doyle menganalisis bahwa Iran tengah menjalankan strategi “perang eksistensial”. Dengan keterbatasan kekuatan konvensional melawan AS dan Israel, Iran memilih untuk membuka fron militer seluas mungkin di 12 negara berbeda guna menguras ekonomi dan mental lawan.

Strategi yang Berisiko Bumerang

Target utama terhadap UEA pun dinilai bukan tanpa alasan. Kedekatan diplomatik UEA dengan Israel pasca-normalisasi menjadikannya sasaran empuk dalam kacamata Teheran. Harapannya, tekanan dari negara-negara Teluk akan memaksa AS untuk segera angkat kaki atau menekan Israel.

Baca Juga :  Pengakuan Resmi Israel terhadap Somaliland Picu Kekhawatiran Global tentang Gelombang Separatis di Afrika

Namun, strategi mengguncang stabilitas kawasan ini diprediksi bisa berbalik merugikan Iran sendiri. Caroline Rose dari New Lines Institute melihat tanda-tanda perlawanan balik dari para pemimpin Arab.

“Strategi ini didasarkan pada asumsi bahwa negara-negara GCC akan segera menekan AS untuk menghentikan serangan, menyetujui kesepakatan, dan menjauh dari Israel. Namun, strategi ini kemungkinan justru berbalik merugikan,” kata Rose.

Kini, alih-alih menjauh, negara seperti Arab Saudi dilaporkan mulai membuka kembali kebijakan yang mengizinkan pasukan AS beroperasi dari wilayahnya—sebuah langkah yang menandakan bahwa kesabaran negara-negara Teluk terhadap “hujan kiriman” dari Teheran telah mencapai batasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com