NARASITODAY.COM, PARIS – Suasana politik di Eropa kian memanas seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Marine Le Pen, pemimpin kuat sayap kanan dari partai National Rally (RN) Prancis, melontarkan kritik tajam terhadap strategi militer Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Dalam wawancara eksklusif dengan radio France Inter pada Rabu (25/3/2026), Le Pen menilai Washington telah terjebak dalam delusi militer yang berbahaya. Baginya, serangan gabungan AS-Israel ke Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu adalah sebuah kekeliruan strategis yang fatal.
Le Pen menyoroti kegagalan intelijen dan prediksi AS yang menganggap Teheran akan takluk dalam hitungan hari. Realita di lapangan justru menunjukkan sebaliknya; Iran tetap berdiri kokoh meski telah kehilangan lebih dari 1.300 nyawa, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
“Apa yang saya lihat adalah AS jelas salah perhitungan dengan mengira rezim Iran akan runtuh dalam beberapa hari. Kenyataannya tidak demikian. Rezim Iran sangat kuat,” ujar Le Pen sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor.
Ia pun mempertanyakan ambiguitas tujuan perang yang dikobarkan Trump. Menurut Le Pen, dunia kini berada dalam kegelapan karena tidak ada yang benar-benar tahu apa sasaran akhir dari Washington dalam konflik berdarah ini.
Guncangan Energi dan Aliansi Eropa
Le Pen mengaitkan bara api di Timur Tengah dengan krisis dingin di daratan Eropa. Perang ini telah menciptakan efek domino yang merusak keseimbangan energi global, mulai dari negara-negara Teluk hingga menyentuh Hungaria.
Ia secara terbuka memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, yang ia sebut sebagai “simbol perlawanan” terhadap kebijakan Komisi Eropa. Le Pen menegaskan kehadirannya untuk menyokong Orban dalam situasi pemilu sebagai bentuk solidaritas antar-sekutu.
“Rusia adalah pemasok energi bagi Hungaria, sementara Ukraina menghambat pasokan minyak Rusia ke Hungaria,” tambahnya, menekankan kerumitan krisis energi yang saling berkelindan.
Dampak Global yang Nyata
Sejak serangan 28 Februari, eskalasi kawasan memang melonjak ke titik nadir. Iran telah membalas dengan hujan drone dan rudal yang tidak hanya menargetkan Israel, tetapi juga menyasar Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Konflik ini bukan lagi sekadar berita di televisi bagi warga dunia; ia telah mengganggu pasar global, membatalkan ribuan penerbangan internasional, dan menghancurkan infrastruktur vital. Bagi Le Pen, tindakan AS di bawah Trump hanya menambah ketidakpastian di tengah dunia yang sudah rapuh.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














