NARASITODAY.COM,JAKARTA – Sebuah persoalan klasik kembali mencuat ke permukaan yakini kapasitas rest area yang tak lagi mampu membendung arus manusia. Jalur layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) dan ruas Tol Jakarta-Cikampek tetap menjadi panggung utama ujian kesabaran para pemudik.
Pemerintah mengakui bahwa titik lelah pengendara di KM 57 dan KM 62 kini telah berubah menjadi titik mati kemacetan. Rest area yang seharusnya menjadi tempat melepas penat, justru menjadi pemicu antrean mengular yang mengunci laju kendaraan di jalur utama.
Ambisi Renovasi Sebelum Natal 2026
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan di KM 57 dan KM 62 akan menjadi prioritas jangka pendek. Pemerintah tidak ingin masalah yang sama berulang saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.
Dody mengungkapkan bahwa PT Jasa Marga akan menerjunkan tim khusus untuk mengkaji ulang struktur kedua kawasan pelayanan tersebut.
“57 dan 62 itu nanti Jasa Marga akan membentuk tim atau konsultan untuk bagaimana kemudian rest area itu harus direnovasi atau direstrukturisasi atau bahkan diperlebar agar kemudian masalah-masalah kemacetan di dua titik ini bisa diselesaikan sebelum libur Nataru 2026,” ujar Dody, dikutip Jumat (3/4/2026).
Strategi besarnya adalah mendorong rest area tipe B untuk “naik kelas” menjadi tipe A. Namun, Dody mengakui adanya tantangan investasi karena lonjakan pengunjung hanya terjadi di musim tertentu.
“Memang kita sedang berusaha agar rest area tipe B itu bisa naik ke tipe A sehingga kapasitasnya bisa nambah. Tapi tantangannya, kebutuhan tinggi itu hanya saat musim liburan, jadi investor masih ragu,” jelasnya.
Solusi Darurat: Rest Area Fungsional
Sembari menunggu renovasi permanen, pemerintah mengandalkan keberadaan rest area fungsional sebagai katup penyelamat. Meski fasilitasnya belum sempurna, keberadaannya terbukti cukup membantu mengurai konsentrasi kendaraan di titik-titik krusial.
“Kemarin kita membuat sekitar 15 rest area fungsional, walaupun memang masih kurang. Ke depan kita akan tambah lagi sambil mendorong swasta untuk meningkatkan kapasitas rest area yang ada,” tambah Dody.
Menakar Kecepatan di Jalur Mudik
Meski keluhan macet kerap terdengar, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mengklaim bahwa secara teknis, waktu tempuh kendaraan masih berada dalam batas kendali. Direktur Operasi Jasa Marga, Fitri Wiyanti, membedah data perjalanan dari Cawang hingga Banyumanik yang rata-rata memakan waktu di bawah 6 jam pada puncak arus.
“Data kami menunjukkan waktu tempuh dari Cawang sampai Banyumanik pada puncak arus mudik mencapai 5 jam 46 menit dalam periode pengamatan dari pukul 06.00 sampai 18.00. Sementara saat arus balik H+3 tercatat 5 jam 12 menit,” papar Fitri.
Data ini diperkuat dengan analisis transaksi kartu tol (tap in dan tap out) yang menunjukkan median perjalanan di angka 6,6 jam untuk rute Cikampek-Kalikangkung.
Untuk jalur layang MBZ, kepadatan paling ekstrem justru terpantau pada dini hari. Fitri merinci bahwa pada pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, perjalanan dari Cikunir hingga ke Cikampek via MBZ menghabiskan waktu hampir 3 jam.
“Untuk MBZ, waktu tempuh paling padat di jam 00.00 sampai 06.00 pagi adalah 2 jam 56 menit. Rinciannya, dari Cikunir sampai TIP 57 sekitar 2 jam 42 menit, dan dari TIP 57 ke Cikampek 14 menit,” pungkas Fitri.
Kini, bola panas ada di tangan operator dan pemerintah untuk memastikan bahwa pada akhir tahun nanti, “ritual” berhenti di rest area tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi para pengguna jalan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













