NARASITODAY.COM, TEHERAN – Kepulan asap konflik yang kian pekat antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memilih jalur diplomasi digital untuk menyentuh nurani dunia. Melalui sebuah pesan panjang yang diunggah di platform X pada Rabu (1/4/2026), Pezeshkian mencoba meruntuhkan tembok stigma “ancaman global” yang selama ini melekat pada negaranya.
Ia menegaskan bahwa akar persoalan bukan terletak pada kebencian antar-bangsa, melainkan pada kebijakan politik pemerintah yang dianggap merugikan kedaulatan Iran.
Menoleh ke Belakang: Peradaban Tanpa Agresi
Pezeshkian membuka pesannya dengan mengingatkan dunia akan identitas Iran sebagai salah satu peradaban tertua. Ia menggarisbawahi fakta sejarah bahwa di era modern, Iran tidak pernah menjadi pemantik perang pertama kali.
“Iran tidak pernah memilih jalur agresi, ekspansi, kolonialisme, ataupun dominasi, meski menghadapi invasi, tekanan, dan intervensi kekuatan global,” tulisnya.
Bagi Pezeshkian, kekuatan militer Iran adalah perisai, bukan pedang untuk menyerang tetangga.
“Dan meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya, Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menolak mereka yang menyerangnya,” tegas sang Presiden.
Mebedah Akar Ketidakpercayaan
Dalam narasinya yang menyentuh sisi historis, Pezeshkian membedah hubungan Iran-AS yang awalnya harmonis namun retak akibat campur tangan asing, dimulai dari kudeta 1953 yang didukung AS. Ia menyebut rentetan peristiwa, mulai dari dukungan AS terhadap Saddam Hussein hingga sanksi ekonomi terlama dalam sejarah, sebagai “benih kebencian” yang ditanam oleh kebijakan Washington.
Ia menilai citra Iran sebagai monster global hanyalah konstruksi politik demi membenarkan dominasi militer. “Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan. AS telah memusatkan sebagian besar pangkalan militernya di sekitar Iran, sebuah negara yang belum pernah memulai perang,” ungkapnya.
Pezeshkian juga melontarkan kritik tajam terhadap serangan yang menyasar fasilitas energi Iran, yang menurutnya merupakan tanda “kebingungan strategis” dan hanya menyengsarakan warga sipil.
Persimpangan Jalan: Dialog atau Konfrontasi?
Menjelang akhir pesannya, Pezeshkian melempar pertanyaan provokatif yang menyasar jargon politik Amerika Serikat: “Apakah ‘America First’ benar-benar termasuk dalam prioritas pemerintah AS saat ini?” tanyanya, merujuk pada pengaruh besar Israel dalam arah kebijakan luar negeri AS yang dinilainya justru merugikan kepentingan rakyat Amerika sendiri.
Ia mengajak masyarakat internasional untuk melihat realitas secara objektif dan meninggalkan pola pikir konfrontatif yang usang.
“Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan penting; hasilnya akan membentuk masa depan bagi generasi mendatang,” tulis Pezeshkian.
Menutup pesannya dengan nada bangga namun penuh peringatan, ia mengingatkan para agresor di masa lalu bahwa Iran telah bertahan selama ribuan tahun melampaui nama-nama penjajah yang kini hanya tinggal noda dalam sejarah.
“Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan berbangga,” pungkasnya, menutup sebuah surat yang nampaknya lebih merupakan ajakan untuk berhenti saling menyerang dan mulai saling mendengar.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













