Pemilu Nepal Tahun Ini Tanda Perubahan Besar dalam Dinamika Politik dan Geopolitik Kawasan

0
Pemilu
Ilustrasi warga nepal mengatri di Kantor Pemilu Distrik di Inaruwa, Sunsari, Nepal.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, KATHMANDU – Peta politik di lereng pegunungan Himalaya baru saja mengalami pergeseran tektonik. Pemilu parlemen Nepal tahun ini resmi menjadi tonggak sejarah sebagai pesta demokrasi pertama pasca-gelombang protes “Gen Z” yang meledak pada September 2025. Hasilnya mengejutkan yaitu rakyat Nepal secara tegas memutus dominasi partai-partai tradisional yang telah berakar selama puluhan tahun.

Partai Rastriya Swatantra (RSP) di bawah kepemimpinan figur muda eksentrik, Balen Shah, berhasil mengamankan mayoritas kursi di parlemen yang beranggotakan 275 orang. Kemenangan ini bukan sekadar pergantian wajah di Kathmandu, melainkan sinyal peringatan bagi pengaruh Beijing di Asia Selatan.

Sumit Kumar, Asisten Profesor Ilmu Politik dari University of Delhi, menilai hasil ini sebagai mosi tidak percaya publik terhadap status quo. “Perubahan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan geopolitik di kawasan, khususnya terkait posisi China di Asia Selatan,” ujar Kumar.

Baca Juga :  Kualitas Udara di New Delhi Melonjak, Pemerintah Imbau Warga Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Memutus Rantai Pengaruh Beijing

Selama hampir satu dekade, China telah menanamkan pengaruh yang sangat dalam di Nepal. Puncaknya terjadi pada 2017, saat Beijing berperan penting menyatukan dua faksi besar komunis CPN-UML dan CPN-Maoist yang melapangkan jalan bagi K.P. Sharma Oli ke kursi kekuasaan. Di bawah Oli, Nepal mesra dengan proyek Belt and Road Initiative (BRI) dan berbagai kesepakatan infrastruktur raksasa.

Namun, bulan madu politik tersebut tampaknya mulai berakhir. Kemenangan Balen Shah dipandang sebagai hambatan besar bagi kebijakan ekspansi China.

“Kekalahan para pemimpin komunis tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan publik, tetapi juga menunjukkan ketidaknyamanan terhadap meningkatnya pengaruh China di Nepal,” tulis Kumar dalam analisisnya.

Baca Juga :  Kebijakan Subjektif KLH Berdampak Kurang Baik Pada Iklim Investasi di Puncak Bogor

Sikap Kritis Sang Pemimpin Baru

Balen Shah bukanlah sosok yang asing dengan sikap skeptis terhadap Beijing. Pada 2023, ia menarik perhatian dunia saat membatalkan kunjungan resmi ke China akibat perselisihan peta wilayah yang melibatkan sengketa perbatasan.

Banyak pihak memprediksi pemerintahan baru akan mengaudit ulang proyek-proyek kerja sama dengan China, terutama dari aspek kelayakan ekonomi dan kedaulatan strategis. Hal ini juga merembet ke sektor pertahanan, di mana upaya China mempererat hubungan militer kemungkinan besar akan menemui jalan buntu.

Di sisi lain, posisi pengungsi Tibet di Nepal diprediksi akan mendapatkan ruang napas lebih lega. Tanpa pemerintahan yang tunduk pada keinginan Beijing, China diperkirakan bakal kesulitan menekan aktivitas komunitas Tibet di wilayah Nepal.

Baca Juga :  Menetapkan Batasan Sehat dengan Orangtua, 5 Kunci Hubungan Dewasa dan Mandiri

Pulang ke Pelukan India?

Berbeda dengan hubungan yang mendingin terhadap China, Nepal di bawah Shah diprediksi akan menjalin kemesraan baru dengan New Delhi. Latar belakang Shah yang memiliki keterkaitan dengan wilayah Madhesi serta pengalamannya tinggal di India menjadi modal kuat bagi penguatan hubungan bilateral kedua negara.

Kehadiran Amerika Serikat pun mulai terasa semakin nyata melalui berbagai program bantuan pembangunan yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menciptakan kontestasi pengaruh yang semakin sengit di Kathmandu.

Menutup pandangannya, Kumar melihat fenomena ini sebagai kemenangan demokrasi yang sehat bagi rakyat Nepal.

“Dengan munculnya generasi politik baru di Kathmandu, terdapat harapan bahwa penguatan institusi demokrasi akan membantu masyarakat Nepal memahami dinamika geopolitik yang berkembang,” ungkap Kumar optimis.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com