Indonesia Masih Bergantung Pada Impor BBM, Impor Bensin Capai 60% dari Kebutuhan Nasional

0
Juli 2026
Ilustrasi Pom bensin. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di balik deru mesin kendaraan yang memadati jalanan tanah air, tersimpan sebuah fakta pahit yaitu Indonesia belum mampu mandiri memenuhi kebutuhan bahan bakarnya sendiri. Hingga tahun 2026, ketergantungan terhadap bensin impor, terutama dari Singapura dan Malaysia, masih menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa lebih dari separuh bensin yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari luar negeri. Pada tahun 2025, angka impor mencapai 60,18% dari total kebutuhan nasional. Meski diprediksi sedikit melandai, angka impor pada 2026 tetap berada di level yang signifikan, yakni 59%.

Tetangga sebagai Penopang Utama

Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, menjelaskan bahwa kedekatan geografis dan ketersediaan pasokan membuat dua negara tetangga menjadi pemasok paling dominan bagi Indonesia.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Tancap Gas Maksimalkan APBD, Targetkan Rutilahu Tuntas dalam 2 Tahun

“Importasi minyak bensin yang paling dominan ini berasal dari Singapura dan Malaysia karena kebutuhan sampai saat ini memang masih membutuhkan importasi,” ujar Rizwi dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Data Kementerian ESDM menunjukkan profil konsumsi bensin yang dinamis. Pada 2025, kebutuhan bensin harian mencapai 100.986 kiloliter (KL). Untuk tahun 2026, proyeksi kebutuhan sedikit menurun menjadi 99.661 KL per hari. Menariknya, terjadi pergeseran tren: kebutuhan Pertalite (subsidi) menurun, sementara konsumsi bensin nonsubsidi justru merangkak naik dari 24.055 KL menjadi 25.254 KL per hari.

Baca Juga :  Menikmati Pesona Taman Bunga Matahari di Atas Mal Bogor, Tempat Liburan Keluarga yang Ideal

Titik Terang di Sektor Solar

Berbeda dengan bensin yang masih “tercekik” impor, sektor solar justru menunjukkan sinyal kemandirian yang menggembirakan. Walaupun kebutuhan solar nasional diprediksi meningkat menjadi 111.356 KL per hari pada 2026, pemerintah berhasil menekan ketergantungan dari pasar luar negeri.

Porsi impor solar tercatat merosot tajam. Jika pada 2025 impor solar masih berada di angka 12,17%, maka pada awal 2026 angka tersebut berhasil ditekan hingga tersisa 6,26% saja. Keberhasilan ini menjadi oase di tengah tingginya beban impor bensin.

Namun, Rizwi mengingatkan bahwa sumber pasokan solar pun masih serupa dengan bensin.

Baca Juga :  Truk Diduga Parkir Ditempat Kurang Penerangan, Pengendara Sepeda Motor Tabrak Pantat Truk Hingga Tewas 

“Di mana untuk importasinya (solar) juga paling dominan berdasar dari Singapura dan Malaysia, baik tahun 2025 maupun 2026,” ungkapnya kembali.

Tantangan ke Depan

Melihat data tersebut, bensin tetap menjadi “pekerjaan rumah” terbesar pemerintah dalam menjaga kedaulatan energi. Penurunan impor yang hanya berkisar 1% dari 2025 ke 2026 menandakan bahwa transisi menuju kemandirian energi atau beralih ke energi alternatif masih berjalan di jalur yang panjang.

Selama kilang di dalam negeri belum mampu menutup celah kebutuhan yang mencapai hampir 100 ribu KL per hari tersebut, Indonesia nampaknya masih harus terus merogoh kocek devisa untuk mengisi tangki-tangki bensin kendaraan rakyatnya dari kilang-kilang di seberang lautan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber