Delegasi Iran dan AS Tiba di Islamabad untuk Perundingan Damai di Tengah Ketegangan Timur Tengah

0
Amerika Serikat
Ilustrasi bendera iran diangit biru. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, ISLAMABAD – Dinginnya udara Islamabad pada Sabtu (11/4/2026) dini hari menyambut kedatangan delegasi tingkat tinggi Iran. Kedatangan rombongan yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi ini bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa, melainkan langkah krusial menuju meja perundingan damai dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pagi ini waktu setempat.

Pertemuan di Pakistan ini dipandang sebagai titik balik setelah 40 hari ketegangan militer yang nyaris menyeret dunia ke dalam lubang kehancuran. Di satu sisi meja, duduklah tokoh-tokoh kunci Washington yaitu Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner. Di sisi lain, sepuluh anggota tim negosiasi Teheran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, telah bersiap dengan tuntutan keras mereka.

Baca Juga :  Media Amerika Ungkap Upaya Riyadh Dorong Trump Hadapi Iran

Syarat di Ujung Pena

Sebelum mendarat di Pakistan, Mohammad Bagher Ghalibaf telah melempar sinyal panas melalui akun X miliknya. Ia mengklaim bahwa Washington telah melunakkan posisi dengan menyetujui pencairan aset Iran yang membeku serta penghentian agresi Israel di Lebanon sebagai syarat dimulainya dialog.

Bagi Teheran, isu Lebanon adalah harga mati. Blokade Selat Hormuz yang masih berlangsung secara terbatas menjadi kartu yang mereka mainkan untuk memastikan sekutu mereka, Hizbullah, tidak terus menjadi sasaran bombardir Israel.

Retorika “Kartu Truf” Donald Trump

Namun, suasana damai di Islamabad kontras dengan narasi yang keluar dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump, dengan gaya bicaranya yang khas, mengecilkan posisi tawar Iran. Baginya, kehadiran Iran di meja perundingan bukanlah bentuk diplomasi yang setara, melainkan jalur penyelamatan terakhir bagi Teheran.

Baca Juga :  PWI Kabupaten Bogor Gelar Rakor, Siapkan Lomba Karya Tulis untuk Pelajar dan Mahasiswa

Iran tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu truf selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur perairan internasional. Satu-satunya alasan mereka masih hidup hingga hari ini adalah untuk bernegosiasi!” tegas Trump.

Trump merujuk pada gencatan senjata dua pekan yang ia umumkan Selasa pekan lalu, yang menurutnya adalah “napas tambahan” yang ia berikan kepada Iran setelah ultimatum kerasnya.

Pakistan, yang bertindak sebagai tuan rumah sekaligus mediator, menyadari betul betapa tipisnya benang yang menahan agar konflik ini tidak pecah kembali. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut bahwa keberhasilan perundingan hari ini akan menjadi penentu apakah kawasan tersebut akan menuju perdamaian abadi atau kembali ke kancah peperangan.

Baca Juga :  Gangguan Energi Global Akibat Konflik Iran Hapus Nilai Minyak Rp860 Triliun

Dalam keterangannya pada Jumat malam, Sharif tidak menutupi kerumitan masalah yang harus diurai, mulai dari nuklir, sanksi ekonomi, hingga kedaulatan wilayah di Lebanon dan Selat Hormuz.

“Gencatan senjata permanen adalah tahap selanjutnya yang sulit karena harus menyelesaikan sejumlah masalah yang rumit melalui negosiasi. Ini, yang disebut dalam bahasa Inggris, sebagai ‘make or brake phase’ (fase penentu),” ungkap Shehbaz Sharif, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Kini, mata dunia tertuju pada sebuah ruang pertemuan di Islamabad. Apakah diplomasi antara Vance dan Araghchi akan melahirkan jabat tangan perdamaian, atau justru mempertegas garis permusuhan? Hasil dari siang ini akan menentukan arah sejarah Timur Tengah di tahun 2026.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com