NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Enam bulan menjelang pemilu paruh waktu, awan mendung tampaknya mulai menyelimuti Partai Republik. Serangkaian jajak pendapat terbaru yang dirilis pada Kamis (23/4/2026) menunjukkan tren penurunan dukungan publik yang signifikan terhadap Presiden Donald Trump, sebuah sinyal peringatan keras bagi stabilitas kekuasaannya di Washington.
Data dari tiga lembaga survei berbeda Reuters-Ipsos, Strength in Numbers-Verasight, dan AP-NORC menempatkan tingkat persetujuan (approval rating) Trump di kisaran 33% hingga 36%. Angka ini mendekati titik terendah sepanjang masa jabatannya, mencerminkan keresahan yang makin nyata di tengah masyarakat Amerika.
Ekonomi dan Biaya Hidup yang Menghimpit
Meski retorika pertumbuhan ekonomi sering digaungkan, realitas di lapangan berbicara lain. Survei AP-NORC mengungkapkan bahwa tujuh dari 10 warga Amerika menilai kondisi ekonomi saat ini buruk. Tingkat kepercayaan terhadap penanganan ekonomi oleh Trump pun terjun bebas ke angka 30%, turun dari 38% pada periode sebelumnya.
Isu biaya hidup menjadi duri paling tajam dalam survei ini. Sebanyak 76% responden secara tegas menyatakan tidak setuju dengan kebijakan ekonomi Presiden.
“Tujuh dari 10 warga Amerika menilai kondisi ekonomi buruk dan percaya negara bergerak ke arah yang salah,” tulis laporan AP-NORC yang dirilis Senin lalu. Sentimen ini diperkuat dengan fakta bahwa 72% responden merasa arah negara sudah menyimpang dari jalur yang benar.
Isu Imigrasi dan Tragedi Minneapolis
Kebijakan deportasi massal yang menjadi identitas politik Trump kini mulai kehilangan daya pikatnya, bahkan di kalangan pemilih independen. Survei Reuters-Ipsos mencatat bahwa 52% warga AS cenderung tidak akan mendukung kandidat yang pro-deportasi.
Penurunan dukungan ini disinyalir sebagai dampak dari bentrokan berdarah antara aparat imigrasi dan demonstran di Minneapolis awal tahun ini yang merenggut dua nyawa. Sejak tragedi tersebut, dukungan terhadap kebijakan imigrasi Trump merosot dari 50% di awal masa jabatan menjadi hanya 40% saat ini.
Di kalangan independen, perlawanan terhadap kebijakan ini semakin mengental. Sebanyak 57% pemilih independen menyatakan lebih memilih kandidat yang menentang garis keras imigrasi Trump.
Ketegangan di Iran dan Basis yang Mulai Retak
Di panggung internasional, kebijakan Trump terhadap Iran juga menuai kritik tajam. Sebanyak 67% publik Amerika menyatakan tidak puas dengan cara Presiden mengelola konflik di Timur Tengah tersebut. Bahkan, 61% responden menilai AS seharusnya menahan diri dari tindakan militer tambahan terhadap Teheran.
Meskipun basis pemilih Partai Republik masih tergolong loyal, mulai tampak retakan kecil di sana. Survei NBC News Decision Desk mencatat dukungan dari pemilih Republik turun 4 poin menjadi 83%.
Secara personal, popularitas Trump mencapai titik nadir di masa jabatan keduanya. “Hanya 37% responden menyatakan puas terhadap kinerjanya sebagai presiden, sementara 63% tidak puas,” lapor NBC News. Dari angka tersebut, setengahnya menyatakan “ketidakpuasan yang kuat.”
Harapan pada Reformasi Pemilu
Di tengah badai ketidakpuasan, masih ada satu celah di mana Trump dan Partai Republik mendapat dukungan mayoritas yaitu melalui reformasi pemilu. Sekitar 75% warga AS setuju dengan kewajiban penggunaan identitas foto resmi pemerintah saat memberikan suara, dan 61% menginginkan dokumen tersebut mencantumkan bukti kewarganegaraan.
Namun, dengan isu ekonomi yang ditempatkan sebagai masalah paling krusial oleh 29% responden melampaui isu ancaman demokrasi (24%) dan kesehatan (12%) Partai Republik kini harus berpacu dengan waktu untuk membalikkan keadaan sebelum kotak suara dibuka enam bulan mendatang.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














