NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Bayang-bayang kegagalan ekonomi mulai menghantui masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Di tengah gemuruh perang melawan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda usai, publik Amerika Serikat kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan bukan hanya secara emosional, tetapi juga finansial.
Hasil survei terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis Senin (11/5/2026) mengungkapkan fakta pahit bagi Gedung Putih yaitu mayoritas warga merasa Trump gagal menjelaskan urgensi keterlibatan militer AS dalam konflik yang telah melumpuhkan ekonomi rumah tangga mereka.
Kebingungan di Tengah Lonjakan Harga
Terasa pada keresahan warga yang mulai membatalkan rencana liburan musim panas mereka. Bagi banyak keluarga di Amerika, kenaikan harga bensin nasional yang mencapai 50% bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata yang memaksa mereka memilih antara mengisi tangki bahan bakar atau kebutuhan pokok lainnya.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa 66% responden termasuk sepertiga pemilih Partai Republik menilai Trump belum “menjelaskan secara jelas tujuan keterlibatan militer AS di Iran.” Ketidakpastian ini diperparah dengan langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia, yang membuat harga bensin domestik meroket tajam.
Angka-angka dalam survei ini memberikan peringatan merah bagi kelangsungan politik Partai Republik:
- Tekanan Finansial: Sebanyak 63% warga mengaku kondisi keuangan mereka terdampak langsung oleh kenaikan harga bensin, melonjak dari 55% pada bulan Maret lalu.
- Popularitas: Meski tingkat persetujuan (approval rating) Trump naik tipis ke angka 36% dari titik terendah 34%, angka ini masih jauh di bawah level 47% yang ia raih saat pelantikan Januari 2025.
- Tanggung Jawab Politik: Sekitar 65% responden menuding Partai Republik sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis ini, berbanding terbalik dengan 27% yang menyalahkan Demokrat.
Pertaruhan di Pemilu Sela
Strategi Partai Republik untuk mempertahankan mayoritas tipis di DPR dan Senat kini berada di ujung tanduk. Para ahli strategi mengakui bahwa kemenangan mereka di pemilu sela November mendatang sangat bergantung pada satu variabel: penurunan harga bensin.
“Masalahnya, belum ada tanda-tanda kesepakatan antara Washington dan Teheran akan segera tercapai,” demikian petikan analisis situasi tersebut.
Meskipun Trump berulang kali menjanjikan harga bahan bakar akan melandai setelah perang berakhir, publik tampak skeptis. Hanya satu dari tiga warga Amerika yang percaya bahwa negaranya memiliki keunggulan militer dalam konflik ini. Sisanya merasa terjebak dalam perang tanpa ujung yang hanya menyisakan tagihan mahal di SPBU.
Konflik yang bermula sejak kampanye pengeboman 28 Februari lalu kini bukan lagi soal siapa yang menang di medan tempur, melainkan siapa yang mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi di dapur warga Amerika sendiri.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














