
NARASITODAY.COM, JENEWA – Musim hujan yang biasanya membawa jeda bagi pertempuran di Sudan, kini tak lagi memberikan nafas lega bagi warga sipil. Penggunaan teknologi pesawat tak berawak atau drone telah mengubah peta konflik menjadi lebih mematikan dan tanpa henti, bahkan di bawah guyuran hujan sekalipun.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) pada Senin (11/5/2026), serangan drone telah menjadi penyebab dominan kematian warga dalam perang saudara antara tentara Sudan dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF).
“Serangan pesawat tak berawak menyebabkan setidaknya 880 kematian warga sipil, lebih dari 80% dari semua kematian warga sipil terkait konflik, antara Januari dan April tahun ini,” lapor OHCHR sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (12/5/2026).
Perang Tanpa Jeda
Di masa lalu, pertempuran di Sudan sering kali mengalami deeskalasi saat musim hujan tiba karena kendala logistik di lapangan. Namun, kehadiran drone bersenjata telah menghapus batas alam tersebut. Teknologi ini memungkinkan serangan presisi yang sayangnya sering kali salah sasaran tetap berlangsung meski mobilitas pasukan darat terhambat.
Kepala OHCHR, Volker Turk, menyampaikan keprihatinan mendalam atas fenomena “fase baru” dalam perang yang telah pecah sejak April 2023 tersebut.
“Drone bersenjata kini telah menjadi penyebab utama kematian warga sipil,” tegas Volker Turk. Ia menambahkan bahwa intensifikasi permusuhan dalam beberapa pekan ke depan berisiko meluas ke wilayah tengah dan timur, membawa “konsekuensi mematikan bagi warga sipil di wilayah yang sangat luas.”
Pasar dan Rumah Sakit Jadi Sasaran
Tragedi ini terasa kian memilukan saat melihat target-target serangan. Alih-alih instalasi militer, drone justru kerap menghujani area publik. Dalam empat bulan pertama tahun ini saja, setidaknya 28 serangan tercatat menghantam pasar-pasar tradisional yang menjadi urat nadi ekonomi warga. Tidak hanya itu, fasilitas kesehatan yang sangat dibutuhkan para penyintas pun tak luput dari serangan sebanyak 12 kali.
PBB memperingatkan bahwa jika kekerasan ini terus meningkat di wilayah Kordofan dan Darfur, serta merambah ke Nil Biru hingga Khartoum, penyaluran bantuan kemanusiaan akan lumpuh total.
Ancaman Kelaparan dan Krisis Global
Di balik desing drone, Sudan kini sedang berpacu dengan waktu melawan kelaparan hebat. Lebih dari 11 juta orang telah mengungsi dan puluhan ribu nyawa melayang dalam tiga tahun terakhir.
Situasi ini diperparah oleh krisis energi dan logistik global. Volker Turk menjelaskan bahwa kelangkaan pupuk yang dipicu oleh perang di Timur Tengah kian memperburuk ketahanan pangan di Sudan.
“Sebagian besar wilayah negara, termasuk Kordofan, kini menghadapi peningkatan risiko kelaparan dan kerawanan pangan akut,” pungkas Turk.
Sudan kini berdiri di ambang kehancuran total, di mana teknologi yang seharusnya memajukan peradaban justru digunakan untuk memastikan perang tidak pernah mengenal kata istirahat.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













