
NARASITODAY.COM, SUCRE – Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang melumpuhkan Bolivia memaksa Presiden Rodrigo Paz mengambil keputusan radikal. Di tengah kepungan demonstran yang menuntutnya mundur, pemimpin berhaluan kanan-tengah ini mengumumkan pemangkasan gajinya sendiri beserta seluruh menteri kabinet sebesar 50 persen. Langkah ini menjadi simbol pengorbanan politik untuk meredam kemarahan publik atas krisis ekonomi terburuk dalam empat dekade terakhir.
Pengumuman yang menghentak publik itu disampaikan langsung oleh Paz di kota Sucre pada Selasa (26/5/2026).
“Presiden ini telah membuat keputusan, sebagai bagian dari upaya dan komitmennya kepada negara, untuk mengurangi gajinya sebesar 50%,” tegas Paz dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari AFP.
Melalui pemotongan ini, gaji bulanan Paz yang semula berada di kisaran 24.000 bolivianos atau sekitar US$ 3.500 (setara Rp62 juta) kini terpangkas menjadi sekitar Rp31 juta per bulan.
Ibu Kota yang Tercekik dan Batas Kesabaran Pemerintah
Sentuhan krisis ini terasa kian nyata di ibu kota administratif, La Paz. Selama berminggu-minggu, jalur distribusi logistik diblokade total oleh massa aksi. Akibatnya, kota tersebut tercekik oleh kelangkaan akut pasokan makanan, bahan bakar minyak (BBM), hingga obat-obatan.
Upaya perdamaian yang diulurkan Paz sebelumnya seolah bertepuk sebelah tangan. Ia sempat memecat menteri tenaga kerja yang dibenci publik serta menjanjikan ruang yang lebih besar bagi serikat pekerja dan kelompok masyarakat adat dalam roda pemerintahan. Namun, amarah warga yang telanjur menyala sejak awal Mei tidak lagi bisa dibendung.
Ketegangan mencapai puncaknya pada Sabtu lalu, saat bentrokan berdarah pecah selama berjam-jam ketika aparat kepolisian mencoba membubarkan blokade jalan menuju La Paz menggunakan gas air mata, yang dibalas lemparan batu oleh massa.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan stasiun televisi Argentina, TN, Presiden Paz menyatakan bahwa pintu komunikasi masih terbuka lebar, meski ketegasan tetap akan ditegakkan.
“Saya akan melakukan segala upaya yang mungkin. Tetapi semuanya ada batasnya,” ujar Paz memberi peringatan keras, seraya memberi isyarat akan memberlakukan keadaan darurat jika kebuntuan politik ini terus berlanjut.
Beban Warisan Dua Dekade Sosialisme
Rodrigo Paz, seorang ekonom yang disokong oleh Amerika Serikat dan lahir dari dinasti politik berpengaruh, sebenarnya baru enam bulan menduduki kursi kepresidenan. Kemenangannya dalam pemilu digadang-gadang sebagai fajar baru yang mengakhiri dominasi rezim sosialisme selama dua dekade di bawah kendali Evo Morales.
Paz mewarisi bom waktu ekonomi, terutama keringnya cadangan devisa negara akibat pembengkakan subsidi BBM yang kronis. Sayangnya, strategi ekonomi yang ia terapkan sejauh ini dinilai gagal menstabilkan pasokan bahan bakar di pom-pom bensin serta belum mampu menjinakkan lonjakan inflasi yang mencekik dompet warga.
Kondisi pelik ini dimanfaatkan oleh lawan politiknya. Dari tempat persembunyiannya, Evo Morales mantan presiden yang kini berstatus buronan polisi atas kasus dugaan perdagangan anak di bawah umur turut memanaskan situasi pada Minggu lalu dengan menyerukan agar Paz segera meletakkan jabatan dan mendesak pemilu dipercepat.
Kini, dengan gaji yang terpotong setengah dan bayang-bayang keadaan darurat, sang presiden ekonom tengah bertaruh dengan waktu untuk menyelamatkan Bolivia dari jurang kehancuran total.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













