Gelombang Kejahatan Berbasis Bahan Bakar Melanda Inggris dan Amerika Serikat Seiring Lonjakan Harga Minyak

0
harga minyak
Ilustrasi Tangan memegang pompa nosel bahan bakar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,LONDONPerang yang meletus di Timur Tengah kini tak hanya membakar infrastruktur di Teluk, tetapi juga membakar dompet warga dunia. Sebuah gelombang kejahatan baru kini menyapu stasiun pengisian bahan bakar di Inggris dan Amerika Serikat (AS), dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik AS-Israel melawan Iran, Rabu (22/04/2026).

Penyebab utamanya adalah penutupan de-facto Selat Hormuz jalur nadi yang menyuplai 20% minyak dunia. Meskipun gencatan senjata sementara telah menghentikan serangan terhadap kilang energi di Teluk, guncangan ekonomi telanjur terjadi.

Di Inggris, harga bensin telah meroket ke angka rata-rata 1,58 pound (Rp31.815) per liter. Tekanan harga ini memicu kenaikan 27% kasus pencurian dengan modus drive-off atau tancap gas tanpa membayar.

Data dari lembaga Forecourt Eye yang memantau 500 stasiun BBM menunjukkan bahwa setiap hari, lebih dari 6.500 liter bahan bakar dicuri. Jika angka ini terus bertahan, kerugian sektor ini bisa mencapai Rp25,1 miliar setiap minggunya.

Baca Juga :  Kenaikan Harga Bahan Bakar Jet Akibat Konflik Global Picu Krisis Baru di Industri Penerbangan

“Pada tingkat biaya bahan bakar saat ini, pengendara yang sengaja menghindari pembayaran bahan bakar merugikan sektor ini lebih dari 100 juta pound setahun,” kata Claire Nichol, Direktur Eksekutif British Oil Security Syndicate, kepada The Sun.

Di seberang Atlantik, pemandangan serupa terjadi. American Automobile Association (AAA) melaporkan harga rata-rata bensin nasional AS kini melampaui US$4 (**Rp64.800**) per galon, bahkan menembus US$6 di California.

Pencuri di AS melakukan tindakan yang lebih nekat. Mengutip Washington Post, banyak pelaku kini menggunakan bor untuk melubangi tangki mobil warga dan menguras isinya ke dalam jerigen. Seorang warga Arizona bahkan harus menanggung tagihan perbaikan sebesar US$3.000 (Rp48,6 juta) setelah tangki mobilnya dirusak.

Baca Juga :  Jutaan Warga US Bersiap Menghadapi Puncak Badai Devin, Situasi Darurat Diumumkan di Beberapa Negara Bagian

Situasi ini memicu perdebatan politik panas. Menteri Energi Chris Wright sempat menyatakan bahwa harga di bawah US$3 mungkin baru akan kembali tahun depan. Pernyataan ini langsung disanggah keras oleh Presiden Donald Trump.

“Itu benar-benar salah, harga akan turun segera setelah perang ini berakhir,” tegas Trump menanggapi prediksi menterinya tersebut.

Dampak Global dan Kontras di Rusia

Krisis ini menyebar luas ke belahan bumi lain:

  • Jerman: Harga diesel melonjak hingga 40%.
  • Prancis: Biaya energi naik 9%, memicu lonjakan penjualan mobil listrik sebesar 51%.
  • Australia: Pencurian BBM di stasiun pengisian meningkat hingga 30%. Rowan Lee, CEO ACAPMA, mencatat bahwa setiap kenaikan harga 10 sen bensin memicu tambahan 120 insiden penipuan setiap bulannya di New South Wales.
Baca Juga :  Petani Kedelai AS Terancam Krisis, China Tak Lakukan Pemesanan Jelang Panen

Pemandangan kontras terlihat di Rusia. Sebagai negara produsen utama yang tidak mengalami defisit struktural, harga bensin di sana stabil di angka 68 rubel (Rp11.830) per liter.

Untuk memastikan stabilitas domestik di tengah kekacauan pasar global, Wakil Perdana Menteri Rusia, Aleksandr Novak, telah memerintahkan larangan ekspor bensin. Novak menyebut kebijakan ini diambil karena adanya “turbulensi di pasar global untuk minyak mentah.”

Kini, sementara para diplomat berupaya memperpanjang gencatan senjata, warga di berbagai negara harus ekstra waspada tidak hanya terhadap harga di papan penunjuk jalan, tetapi juga terhadap keamanan tangki kendaraan mereka sendiri.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com