NARASITODAY.COM, JEDDAH – Skor 0-7 adalah luka yang dalam, namun bagi Timnas Indonesia U-17, angka tersebut ternyata menjadi pupuk terbaik bagi pertumbuhan mental mereka. Menjelang laga sesungguhnya di Piala Asia U-17 2026, memori pahit di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, tiga bulan lalu kini menjadi bahan bakar utama Dava Yunna dan kawan-kawan untuk membalikkan prediksi.
Perjalanan Timnas U-17 menuju panggung Asia bukanlah jalur yang mulus. Pada Februari 2026, saat pengundian grup bahkan belum dilakukan, Indonesia menjamu China dalam laga uji tanding yang berakhir dengan “tsunami” gol ke gawang tuan rumah.
Tragedi Sepuluh Gol dalam Tiga Hari
Laga pertama pada 8 Februari 2026 menjadi malam yang ingin dilupakan sekaligus terus diingat oleh pencinta sepak bola nasional. Tim Merah Putih dibantai tujuh gol tanpa balas. Nama-nama andalan seperti Dava Yunna, Fardan Farras, Farrel Lukito, hingga Peres Tjoe yang kini menghuni skuad Piala Asia, saat itu merasakan langsung dinginnya dominasi “Naga Muda”.
Tiga hari berselang, upaya bangkit dilakukan. Meski menunjukkan perlawanan lebih gigih, Indonesia kembali menyerah dengan skor tipis 2-3. Secara akumulatif, gawang Indonesia dijebol 10 kali hanya dalam waktu tiga hari.
“Jika ditotal, maka Timnas Indonesia U-17 kalah 2-10 dalam dua laga melawan China pada Februari 2026,” tulis catatan statistik persiapan tim.
Menghadapi Lawan yang Sama di Panggung Berbeda
Menariknya, skuad China yang kini dihadapi di Jeddah hampir tidak berubah dari tim yang berpesta gol di Tangerang. Nama-nama seperti Zhao Songyuan, Wang Heyi, Shuai Weihao, dan Zhang Bolin para aktor utama di balik kemenangan besar tiga bulan lalu kembali hadir untuk menguji ketangguhan Garuda Muda.
Di sisi Indonesia, pelatih tetap memercayai kerangka tim yang sama. Nama-nama seperti Noah Leo Duvert, Putu Ekayana, Shoyyo Himawan, hingga M Mierza Firjatullah yang ikut merasakan pahitnya kekalahan di Tangerang, kini kembali berdiri di lapangan hijau dengan satu misi: pembuktian.
Uji tanding tersebut kini terlihat bukan sekadar kekalahan telak, melainkan sebuah simulasi mahal. Kekalahan 2-10 tersebut menjadi cermin retak yang telah diperbaiki. Bagi Dava Yunna dkk, China adalah bukti nyata bagaimana sebuah tim bisa belajar dari kehancuran untuk membangun kembali kekuatan saat peluit laga sesungguhnya di Piala Asia U-17 2026 ditiupkan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














