Strategi Lama AS Dinilai Tak Lagi Relevan dalam Menghadapi Perang Modern

0
AS
Ilustrasi Pemandangan kota New York, cakrawala Empire State Building dan Patung Liberty.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTONHegemoni global Amerika Serikat (AS) yang telah berdiri kokoh sejak berakhirnya Perang Dunia II kini berada di persimpangan jalan. Era Pax Americana, sebuah tatanan dunia di mana Washington bertindak sebagai poros tunggal ekonomi dan politik, dilaporkan tengah menghadapi ancaman keruntuhan yang nyata.

Meski selama puluhan tahun AS tampil digdaya sebagai “polisi dunia”, kekuatan besar tersebut ternyata menyimpan kerentanan yang sistemis. Tom McTague, dalam tulisannya di The Atlantic, menggarisbawahi bahwa posisi puncak AS justru memicu sentimen negatif global.

“Kekuatan besar AS juga diiringi oleh kerentanan kehancuran yang begitu besar. Sebab, ketidaksukaan publik dunia atas kedudukan AS membuat mereka menginginkan keruntuhan dari negara tersebut,” tulis McTague.

Kemunduran ini disinyalir berakar dari kegagalan militer AS dalam beradaptasi dengan peta konflik modern. Berdasarkan paparan dalam buku The New Rules of War: Victory in the Age of Durable Disorder (2019), AS dinilai masih terjebak pada strategi perang konvensional: membunuh pemimpin dan menghancurkan militer musuh.

Baca Juga :  Polisi Tangkap Pelaku Pelemparan Kaca Truk di Parungpanjang

Namun, di era pasca-1945, musuh sesungguhnya bukan lagi sekadar garis batas negara, melainkan ideologi yang melintasi batas politik. Kegagalan Washington menghabisi akar ideologis ini justru melahirkan kelompok ekstrimis baru seperti ISIS, yang menjadikan kehancuran AS sebagai misi utamanya. Agresi militer yang berulang di Timur Tengah pun akhirnya menjadi bumerang yang memicu kekecewaan global.

Di saat Washington sibuk dalam pusaran konflik bersenjata yang menguras energi dan biaya, China muncul dengan strategi yang jauh lebih tenang namun mematikan: ekspansi perdagangan.

Baca Juga :  Cegah Penyelewengan Dana BOSP, SMK di Bogor Ikuti Pendampingan Penyusunan ARKAS 2025

Data IMF menunjukkan pergeseran angka yang drastis. Pada tahun 2000, PDB China hanya menyumbang 7% dari total dunia, namun melonjak menjadi hampir 19% dua dekade kemudian. Sebaliknya, PDB Amerika Serikat justru merosot dari 20% menjadi kisaran 16%.

Nicholas Kitchen dan Michael Cox dalam “Power, structural power, and American decline” (2019) menyebutkan bahwa sistem kapitalisme AS kini dipandang telah merusak politik dan menghambat pertumbuhan, sehingga kehilangan daya tariknya di mata internasional.

Kini, aroma kemunduran yang diprediksi sejarawan Alfred McCoy mulai tercium nyata. McCoy meramalkan bahwa pada tahun 2025, kekuatan AS akan “compang-camping”, disusul dengan hilangnya status dolar sebagai mata uang utama dunia pada 2030.

Tanda-tanda ini mulai terlihat melalui gerakan dedolarisasi yang dimotori oleh blok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan). Tak hanya di sektor ekonomi, di panggung diplomasi pun AS mulai “dilupakan”.

Baca Juga :  Mahasiswa HMI Demo di Depan Istana Bogor Kecam Serangan AS-Israel ke Iran

Langkah mengejutkan diambil oleh sekutu lama AS, Arab Saudi, yang memilih melakukan normalisasi hubungan dengan Iran di bawah mediasi China. Bahkan, nada skeptis mulai muncul dari jantung Eropa. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, usai bertemu Xi Jinping, secara terbuka menyerukan agar Eropa mengurangi ketergantungan pada Washington.

“Eropa harus menghindarkan diri dari terseret ke dalam konfrontasi antara AS dan China atas Taiwan,” tegas Macron sebagaimana dikutip dari Politico. Ia menekankan pentingnya “otonomi strategis” agar Eropa mampu berdiri sebagai kekuatan adikuasa ketiga di tengah memudarnya pengaruh sang Paman Sam.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com