Parlemen Filipina Resmi Makzulkan Wakil Presiden Sara Duterte, Persidangan di Senat Siap Digelar

0
Filipina
Wakil Presiden Sara Duterte.Foto : langit7.id

NARASITODAY.COM,MANILA – Langit Manila yang dibayangi demonstrasi massa, panggung politik Filipina kembali diguncang gempa besar. Senin (11/5/2026), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina secara resmi mengetok palu pemakzulan terhadap Wakil Presiden Sara Duterte. Keputusan ini menandai berakhirnya secara tragis aliansi “Unitam” yang sempat membawa kemenangan telak bagi keluarga Marcos dan Duterte pada Pemilu 2022 lalu.

Sebanyak 257 anggota parlemen memberikan suara setuju, angka yang jauh melampaui batas minimal sepertiga kursi yang dibutuhkan. Sementara itu, hanya 25 anggota yang menolak dan sembilan lainnya memilih abstain.

Dari Kawan Menjadi Lawan Terbuka

Pemungutan suara ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan puncak dari perseteruan dingin antara Sara Duterte (47) dan Presiden Ferdinand Marcos Jr. Dua dinasti politik paling berpengaruh di Filipina ini kini terlibat dalam rivalitas terbuka yang mengancam stabilitas pemerintahan.

Baca Juga :  Dewa United FC Siapkan Langkah Prestisius Lewat Festival Anak Dewa U-12 untuk Pemain Muda

Sara dituduh melakukan serangkaian pelanggaran berat, mulai dari penyalahgunaan dana publik, kepemilikan kekayaan yang mencurigakan, hingga tuduhan provokatif mengenai ancaman keselamatan terhadap Presiden Marcos Jr, ibu negara, dan mantan ketua DPR.

Menanggapi hal tersebut, pihak Duterte tetap menunjukkan sikap menantang. Tim kuasa hukumnya menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur selangkah pun dalam persidangan di Senat mendatang.

“Kami sepenuhnya siap membela Wakil Presiden di hadapan Senat yang bertindak sebagai pengadilan pemakzulan, di mana pihak penuntut berkewajiban membuktikan seluruh tuduhan,” demikian pernyataan resmi tim hukum Duterte, mengutip laporan Reuters.

Drama di Gerbang Senat

Langkah pemakzulan ini membawa Sara Duterte pada jalur hukum yang pernah dilalui Joseph Estrada pada tahun 2000. Jika Senat menyatakan dirinya bersalah, Sara tidak hanya akan kehilangan kursinya saat ini, tetapi juga hak politiknya untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2028 sebuah kontestasi di mana ia sebelumnya dijagokan sebagai kandidat terkuat.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Subianto Melanjutkan Lawatan ke Prancis dan Bahas Kerja Sama Strategis dengan Presiden Macron

Namun, drama politik Filipina selalu penuh kejutan. Di saat DPR meloloskan pemakzulan, Senat justru memilih Alan Peter Cayetano sebagai ketua lembaga yang baru. Cayetano adalah sekutu lama keluarga Duterte. Kehadirannya sebagai pemimpin sidang pemakzulan nanti dianggap dapat menjadi “benteng pertahanan” politik bagi Sara.

Suara dari Jalanan dan Parlemen

Di luar gedung parlemen, realitas politik terbelah. Puluhan demonstran membentangkan spanduk bertuliskan “Makzulkan Sara Sekarang,” sebuah pemandangan yang kontras dengan popularitas besar yang pernah ia nikmati dua tahun lalu.

Baca Juga :  Mantan Presiden AS Barack Obama Secara Tidak Langsung Tanggapi Video Rasis yang Diunggah di Media Sosial Donald Trump

Bagi para pendukung pemakzulan, langkah ini adalah soal integritas negara. Anggota parlemen Bienvenido Abante menegaskan bahwa proses ini melampaui sentimen pribadi.

“Rakyat Filipina berhak mendapatkan persidangan yang adil, tidak memihak, dan berlandaskan supremasi hukum,” tegas Abante.

Hal senada diungkapkan politikus oposisi Jose Manuel Diokno. Ia menilai bukti-bukti yang diajukan sudah sulit untuk dibantah. “Kami sudah melihat bukti yang sangat jelas,” ujarnya singkat.

Kini, bola panas berada di tangan Senat. Bagi keluarga Duterte, ini adalah ujian keberlangsungan dinasti mereka, mengingat sang ayah, Rodrigo Duterte, juga tengah dibayangi penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Bagi Filipina, ini adalah babak baru dalam sejarah demokrasi mereka yang penuh gejolak.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com