Redam Efek Perang Iran, Jepang Kucurkan Anggaran Rp336 Triliun demi Selamatkan Dompet Warga

0
Kota Yubari
Ilustrasi Bendera Jepang berkibar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TOKYO – Gelombang kejut geopolitik di Timur Tengah mulai memukul dapur rumah tangga di Jepang. Guna melindungi warganya dari jeratan inflasi akibat perang Iran, Pemerintah Jepang bergerak cepat dengan merencanakan anggaran tambahan masif senilai US$ 19 miliar (sekitar Rp336,83 triliun) atau setara 3 triliun yen.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menjelaskan bahwa dana jumbo ini dialokasikan khusus sebagai bantalan sosial untuk meredam lonjakan harga kebutuhan pokok, mulai dari bensin, listrik, hingga gas. Langkah intervensi ini diambil di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti pasokan energi dunia.

Takaichi menyampaikan kebijakan taktis ini secara langsung di hadapan awak media pada Senin (25/5/2026). Ia menegaskan bahwa prioritas utama Tokyo saat ini adalah meminimalkan risiko ekonomi dan memperkokoh benteng finansial negara dari guncangan eksternal.

Baca Juga :  Delegasi Iran dan AS Tiba di Islamabad untuk Perundingan Damai di Tengah Ketegangan Timur Tengah

“Dengan pandangan untuk meminimalkan risiko, kami telah menyusun anggaran tambahan untuk memastikan kami siap sepenuhnya secara finansial,” ujar Takaichi, seperti dikutip dari AFP.

Rancangan undang-undang terkait anggaran darurat ini akan segera diserahkan kepada parlemen Jepang (Diet), dengan target ketok palu diperkirakan pada pekan depan.

Dari Krisis Tinta Keripik Kentang hingga Pasokan Minyak

Sentuhan dampak perang Iran di Jepang nyatanya tidak hanya terasa pada meteran listrik warga, melainkan merembet hingga ke rak-rak supermarket dengan cara yang unik. Produsen keripik kentang raksasa Jepang, Calbee, terpaksa mengubah penampilan ikonis produknya.

Awal bulan ini, Calbee meluncurkan kemasan baru berwarna abu-abu polos untuk 14 lini produknya, menanggalkan warna oranye dan kuning yang biasanya mencolok. Laporan media lokal menyebutkan estetika baru ini terpaksa diadopsi akibat kelangkaan bahan baku tinta dunia yang terganggu oleh rantai pasok dampak perang Iran.

Baca Juga :  Didoakan 500 Anak Yatim, Relawan JAPATI Deklarasi Dukung Calon Bupati Bogor Jaro Ade

Meski industri mulai megap-megap, PM Takaichi meyakinkan publik bahwa fondasi energi dalam negeri masih kokoh. Pemerintah memproyeksikan pasokan minyak untuk kebutuhan domestik akan tetap aman dan stabil hingga musim semi mendatang.

Selain itu, ia memaparkan bahwa pasokan alternatif untuk nafta produk sampingan minyak bumi yang krusial bagi berbagai sektor manufaktur kini mulai merangkak naik. Pasokan nafta pengganti yang diimpor dari luar wilayah Timur Tengah dilaporkan telah pulih hingga mencapai lebih dari 80 persen dari tingkat pasokan sebelum krisis.

Alarm Inflasi Bank Sentral

Kendati pemerintah optimistis, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) justru telah menyalakan alarm waspada sejak bulan lalu. Merespons meroketnya harga minyak mentah dunia akibat konflik Iran, bank sentral resmi menaikkan perkiraan inflasi negara sekaligus memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang.

Baca Juga :  Para Pedagang Bendera Meriahkan Jalan-Jalan Utama Menjelang HUT RI ke-79

Pihak otoritas moneter tersebut memprediksi bahwa efek domino dari mahalnya harga minyak mentah akan terus menekan harga komoditas dalam negeri secara luas dalam jangka panjang.

“Kenaikan harga minyak mentah diperkirakan akan mendorong kenaikan harga, terutama energi dan barang, dengan langkah untuk meneruskan kenaikan upah ke harga jual yang terus berlanjut,” tulis Bank Sentral Jepang dalam pernyataan resminya.

Melalui kombinasi kebijakan moneter bank sentral dan guyuran stimulus triliunan yen dari PM Takaichi, Jepang kini sedang berkejaran dengan waktu untuk memastikan perang di Timur Tengah tidak sampai memadamkan roda perekonomian di Negeri Sakura.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber